Serangan rudal dan drone Rusia yang menghantam kawasan pemukiman di pusat Kota Kyiv pada Rabu malam hingga Kamis dini hari menewaskan sedikitnya 27 orang dan melukai 91 lainnya. Otoritas Ukraina menyebut ini sebagai salah satu serangan paling brutal terhadap ibu kota sejak invasi dimulai lebih dari empat tahun lalu.
Wali Kota Kyiv, Vitali Klitschko, menggambarkan rentetan serangan itu sebagai "serangan paling besar musuh terhadap ibu kota". Sejumlah gedung apartemen hancur akibat gempuran yang berlangsung berjam-jam tersebut.
Kepala administrasi militer kota, Tymur Tkachenko, mengonfirmasi jumlah korban jiwa dan luka-luka. Angka ini naik drastis dari laporan awal yang menyebutkan 13 orang tewas dan 86 terluka.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, saat memeriksa salah satu blok apartemen yang sebagian hancur, menegaskan bahwa pasukannya "pasti" akan membalas serangan itu. Ia juga mendesak Amerika Serikat untuk memberikan lisensi produksi rudal pertahanan udara Patriot guna memperkuat pertahanan udara Ukraina.
Diplomat tertinggi Uni Eropa merespons dengan mengusulkan sanksi baru terhadap Moskow. Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, mengutuk keras serangan tersebut dan kembali menyerukan gencatan senjata.
"Serangan terhadap warga sipil dan infrastruktur sipil di mana pun terjadi merupakan pelanggaran nyata terhadap hukum humaniter internasional dan harus segera dihentikan," kata Juru Bicara Sekjen PBB, Stephane Dujarric.
Di pihak lain, Rusia bersumpah akan meningkatkan tekanan lebih lanjut terhadap Kyiv. Retorika tanpa kompromi terus digaungkan, menandakan eskalasi konflik yang telah menjadi yang paling mematikan di Eropa sejak Perang Dunia II.
Artikel Terkait
Jaksa Jerman Tuding Otoritas Ukraina di Balik Ledakan Nord Stream
Serangan Rudal dan Drone Rusia Tewaskan 13 Orang di Kyiv, Ukraina Desak Tambahan Pertahanan Udara
Krisis Bahan Bakar di Rusia: Akankah Tekanan Ukraina Paksa Putin Bernegosiasi?
Zelensky Sindir Rusia yang Mulai Antre BBM Akibat Perang