Rupiah Dekati Rp 18.000 per Dolar AS, Tertekan Sentimen Global dan Permintaan Valas Akhir Bulan

- Jumat, 26 Juni 2026 | 10:48 WIB
Rupiah Dekati Rp 18.000 per Dolar AS, Tertekan Sentimen Global dan Permintaan Valas Akhir Bulan

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali tertekan dan mendekati level psikologis Rp 18.000. Pada perdagangan Jumat (26/6) pukul 10.27 WIB, kurs rupiah tercatat di level Rp 17.980 per dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 36 poin atau 0,20 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya. Pelemahan ini tidak hanya dialami oleh rupiah, tetapi juga menimpa sejumlah mata uang di kawasan Asia Tenggara.

Chief Economist BTN, Myrdal Gunarto, mengamati bahwa dolar Singapura melemah 0,08 persen atau 0,0010 poin ke level 1,29 per dolar AS. Sementara itu, baht Thailand turun 0,24 persen atau 0,0079 poin ke level 33,410.

“Nah, kita juga tidak seburuk Korean won sama Thailand baht ya untuk pelemahan hari ini,” ujarnya.

Menurut Myrdal, tekanan terhadap rupiah tidak semata-mata berasal dari faktor domestik. Penguatan dolar AS secara regional menjadi salah satu penyebab utama. Di sisi lain, investor global saat ini tengah melakukan aksi ambil untung atau profit taking.

“Apalagi kan ada warning yang disampaikan oleh MSCI. Walaupun kalau kita lihat peringkatnya sama, tapi kan untuk porsi investasi dari MSCI juga sudah jauh berkurang ya untuk di Indonesia saat ini,” jelas Myrdal.

Selain faktor eksternal, permintaan valuta asing yang tinggi di akhir bulan turut mendorong pelemahan rupiah. Myrdal menjelaskan bahwa kebutuhan valas untuk pembiayaan impor, terutama impor sektor manufaktur dan bahan bakar minyak, meningkat signifikan. Tak hanya itu, pembayaran utang luar negeri yang rutin jatuh tempo pada akhir bulan juga menambah tekanan permintaan valas.

Economist and Fixed Income Analyst BCA Sekuritas, Felix Darmawan, menambahkan bahwa pelemahan rupiah pagi ini mencerminkan sensitivitas pasar terhadap ketidakpastian kebijakan. Ia menilai pelaku pasar saat ini lebih banyak bereaksi terhadap spekulasi ketimbang fundamental yang sudah terkonfirmasi.

“Mengingat saat ini pelaku pasar masih lebih banyak merespons spekulasi dibanding fundamental yang sudah pasti,” ujar Felix.

Dalam situasi seperti ini, ia melihat pergerakan pasar masih berada dalam fase memantau. Investor cenderung menunggu kejelasan lebih lanjut sebelum mengambil posisi yang lebih tegas.

“Dengan demikian, pendekatan wait‑and‑see masih dominan, seiring investor menunggu kejelasan lebih lanjut sebelum mengambil positioning yang lebih tegas lagi,” kata Felix.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.