IHSG Kembali Terkoreksi 1,44 Persen ke Level 5.912, Dipicu Volatilitas Tinggi dan Tekanan Rupiah

- Jumat, 26 Juni 2026 | 10:30 WIB
IHSG Kembali Terkoreksi 1,44 Persen ke Level 5.912, Dipicu Volatilitas Tinggi dan Tekanan Rupiah

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terperosok pada perdagangan Jumat (26/6/2026), setelah sempat menunjukkan tanda-tanda pemulihan sehari sebelumnya. Hingga pukul 09.48 WIB, indeks utama bursa saham nasional itu terkoreksi 1,44 persen ke level 5.912,58, membalikkan penguatan yang terjadi di awal sesi.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat nilai transaksi mencapai Rp3,22 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 5,46 miliar saham. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, sebanyak 533 saham tercatat melemah, 108 saham menguat, dan 318 saham lainnya bergerak stagnan. Angka ini menggambarkan dominasi tekanan jual di pasar sejak menit-menit awal pembukaan.

Pergerakan IHSG belakangan ini memang menunjukkan volatilitas yang tinggi. Sebelumnya, pada periode Senin (22/6) hingga Rabu (24/6), indeks mengalami tekanan signifikan. Namun, pada perdagangan Kamis (25/6), IHSG berhasil bangkit dengan menguat 1,96 persen ke level 5.999,04. Penguatan itu ditopang oleh sejumlah sentimen positif, salah satunya adalah koreksi harga minyak mentah Brent yang mendekati level USD70 per barel.

“Penurunan harga minyak mentah menjadi salah satu faktor positif karena dapat mengurangi tekanan terhadap pelebaran defisit APBN 2026 serta diharapkan mampu meredam laju inflasi lebih lanjut,” tulis Phintraco Sekuritas dalam risetnya, Jumat (26/6).

Di sisi lain, pasar juga merespons positif kabar bahwa pemerintah kembali mempertimbangkan pemangkasan tambahan anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebesar Rp50 triliun. Langkah tersebut dinilai dapat membantu menjaga ruang fiskal pemerintah di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Meski ada sentimen positif, volatilitas pasar saham domestik masih cukup tinggi. Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Novani Karina Saputri, menilai investor masih dihadapkan pada ketidakpastian global dan domestik yang membayangi pergerakan IHSG. Dalam riset yang terbit Jumat (26/6/2026), Novani menyebutkan IHSG hingga 24 Juni 2026 telah terkoreksi sekitar 32 persen secara year to date (YTD) dan turun 4 persen secara month to date (MTD). Kondisi itu, menurutnya, mencerminkan tingginya tekanan di pasar saham dalam beberapa waktu terakhir.

Tekanan juga datang dari nilai tukar rupiah yang masih berada di atas level Rp17.900 per dolar AS. Kondisi ini menunjukkan risiko eksternal dan kehati-hatian investor asing terhadap pasar negara berkembang belum sepenuhnya mereda. Novani menambahkan, pergerakan pasar saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen investor dan faktor eksternal ketimbang memburuknya fundamental ekonomi Indonesia.

Ketidakpastian arah suku bunga global, arus modal asing, serta perkembangan geopolitik menjadi faktor utama yang meningkatkan volatilitas. Meski demikian, fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih cukup kuat. Permintaan domestik yang stabil serta pengelolaan kebijakan ekonomi yang relatif prudent dinilai tetap menjadi penopang prospek pasar dalam jangka menengah hingga panjang.

Di tengah kondisi pasar yang penuh ketidakpastian, Novani menilai strategi investasi yang lebih defensif menjadi semakin relevan bagi investor.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.