Wall Street Melemah, Saham Intel dan Ketegangan Iran Jadi Pemberat

- Selasa, 11 Agustus 2026 | 06:08 WIB
Wall Street Melemah, Saham Intel dan Ketegangan Iran Jadi Pemberat

Bursa saham Amerika Serikat ditutup melemah pada Senin (10/8). Indeks Nasdaq dan S&P 500 tertekan oleh penurunan saham Intel dan sejumlah produsen chip, sementara investor semakin khawatir dengan meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran yang memicu lonjakan harga minyak.

Indeks S&P 500 turun 0,06 persen ke level 7.753,12. Nasdaq Composite melemah 0,32 persen ke 26.605,36, dan Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,11 persen ke 53.976,04. Pelemahan terjadi di tengah pesimisme pasar terhadap tercapainya kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital bagi pasokan minyak dunia.

Harga minyak mentah AS melonjak sekitar 5 persen ke USD 82,13 per barel. Kenaikan ini kembali memicu kekhawatiran inflasi dan risiko suku bunga yang tetap tinggi. Presiden AS Donald Trump sebelumnya menuntut Iran memberikan kompensasi atas korban yang menurutnya tewas dalam perang, serangan, dan aksi protes. Iran merespons dengan meminta Washington memenuhi sejumlah persyaratan, termasuk kompensasi atas kerusakan sejak AS dan Israel melancarkan serangan ke wilayah Iran lebih dari lima bulan lalu.

“Jelas belum ada kepastian mengenai jalur untuk kembali ke kondisi sebelum konflik dimulai, sehingga premi risiko terus terbentuk. Sejauh ini dunia masih mampu mengatasinya, tetapi solusi sementara itu tidak akan bertahan selamanya,” ujar Tom Hainlin, investment strategist di U.S. Bank Wealth Management.

Saham Intel menjadi salah satu pemberat utama pasar. Perusahaan chip itu mengumumkan rencana menghimpun dana USD 15 miliar melalui penjualan saham, yang langsung mendorong harga sahamnya turun 4,1 persen. Saham Nvidia juga melemah 2,9 persen. Di tengah tekanan, Reuters melaporkan sejumlah perusahaan keuangan, termasuk Apollo Global dan Blackstone, tengah bekerja sama dengan Nvidia untuk menyiapkan paket pendanaan senilai USD 500 miliar guna mengembangkan infrastruktur kecerdasan buatan (AI).

“Ini adalah margin dan laba yang berada di rekor tertinggi. Itulah cerita pasar ini, tetapi konflik Iran membuat sentimen risiko naik-turun,” kata Hainlin.

Pasar Masih Menunggu Arah The Fed

Perhatian investor selanjutnya tertuju pada sejumlah data ekonomi AS yang dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan Federal Reserve (The Fed). Data ketenagakerjaan yang dirilis Jumat menunjukkan perusahaan-perusahaan AS secara tak terduga mengurangi 23.000 pekerja pada Juli. Kondisi ini membuat pelaku pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September. Berdasarkan CME FedWatch, pasar kini memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga pada September sebesar 52 persen.

Di sisi lain, musim laporan keuangan masih berlangsung. Sekitar 85 persen dari 436 perusahaan S&P 500 yang telah melaporkan kinerja sejauh ini berhasil membukukan laba di atas ekspektasi, berdasarkan data LSEG.

Di New York Stock Exchange (NYSE), saham yang turun mengungguli saham yang naik dengan rasio 1,39 banding 1. Sebanyak 297 saham mencatat level tertinggi baru, sementara 149 saham mencatat level terendah baru. Di Nasdaq, sebanyak 1.928 saham naik dan 2.841 saham turun, dengan rasio saham turun terhadap saham naik sebesar 1,47 banding 1. S&P 500 mencatat 20 level tertinggi baru dalam 52 minggu dan satu level terendah baru, sedangkan Nasdaq Composite membukukan 107 level tertinggi baru dan 74 level terendah baru.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags