Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau ambles pada perdagangan sesi pertama hari ini. Indeks anjlok 127,05 poin atau 2,12 persen ke level 5.871,98 pada pukul 10.59 WIB. Padahal, IHSG sempat membuka perdagangan dengan catatan positif, menguat 0,19 persen ke posisi 6.010,34 pada pukul 09.00 WIB, naik dari penutupan sebelumnya di 5.999,04.
Tekanan jual yang kembali muncul ini terjadi di tengah upaya pemulihan indeks dari level terendahnya. Berdasarkan analisis Mirae Asset Sekuritas, IHSG masih akan bergerak volatil meskipun sudah mulai pulih. Secara year to date, indeks telah terkoreksi sekitar 32 persen, sementara secara month to date terkoreksi 4 persen.
Pelemahan IHSG sejalan dengan posisi rupiah yang masih berada di atas Rp 17.900 per dolar AS. Menurut laporan Mirae Asset Sekuritas, kondisi ini mencerminkan sikap hati-hati investor asing terhadap pasar negara berkembang.
“Rupiah masih berada di atas Rp 17.900 per dolar AS mencerminkan sentimen asing terhadap emerging market yang masih berhati-hati,” tulis laporan tersebut, Jumat (26/6).
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji, menambahkan bahwa data inflasi Amerika Serikat masih menjadi perhatian utama. Ia mengingatkan, data core Personal Consumption Expenditures (PCE) AS sebesar 3,4 persen dan headline PCE sebesar 4,1 persen secara tahunan pada Mei masih berada di atas target inflasi Federal Reserve sebesar 2 persen.
Menurut Nafan, kondisi itu berpotensi menjadi alasan bagi bank sentral AS untuk mempertahankan kebijakan kenaikan suku bunga dalam 12 bulan ke depan.
“Sisi lain, penurunan peringkat daya saing Indonesia dalam World Competitiveness Ranking sebanyak 21 peringkat selama 2 tahun terakhir, dari posisi 27 ke peringkat 48 dari 70 negara, masih menjadi catatan fundamental domestik yang dicermati oleh investor jangka panjang,” jelas Nafan.
Artikel Terkait
Saham Thailand Cetak Kinerja Terbaik di Asia Tenggara Berkat Lonjakan Permintaan Infrastruktur AI
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Ekonom Dorong Ekspor Jadi Strategi “Serangan Balik”
Rupiah Dekati Rp 18.000 per Dolar AS, Tertekan Sentimen Global dan Permintaan Valas Akhir Bulan
IHSG Kembali Terkoreksi 1,44 Persen ke Level 5.912, Dipicu Volatilitas Tinggi dan Tekanan Rupiah