IHSG Merosot Tujuh Hari Beruntun, Tertekan Pelemahan Rupiah dan Aksi Jual Asing

- Selasa, 28 April 2026 | 11:00 WIB
IHSG Merosot Tujuh Hari Beruntun, Tertekan Pelemahan Rupiah dan Aksi Jual Asing

Jakarta IHSG lagi-lagi merah. Selasa (28/4/2026) ini, indeks acuan kita sudah melemah tujuh hari berturut-turut. Entah karena faktor luar negeri atau masalah di dalam negeri, yang jelas trennya lagi kurang bersahabat.

Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia, sekitar pukul 10.16 WIB, IHSG ambles 0,79 persen ke posisi 7.050,44. Lumayan dalam. Nilai transaksinya sendiri mencapai Rp5,10 triliun, dengan volume perdagangan sekitar 10,79 miliar saham. Banyak yang jualan, kayaknya.

Dari total saham yang diperdagangkan, 385 di antaranya melemah. Sementara yang menguat cuma 276, dan 298 sisanya diam di tempat alias stagnan. Agak timpang memang.

Yang paling tertekan? Saham-saham big cap milik konglomerasi dan beberapa bank besar. Mereka jadi bulan-bulanan tekanan jual hari ini.

Michael Yeoh, pengamat pasar modal, bilang kalau IHSG sekarang sedang berada di fase yang cukup krusial. Terutama kalau dilihat dari sisi teknikal. Menurut dia, ada beberapa angka yang wajib diperhatikan.

“IHSG saat ini menuju gap di bawah 7.022, dan 7.000 merupakan angka psikologis sekaligus angka yang perlu dipertahankan sebagai syarat untuk tidak menuju swing low selanjutnya,” ujar Michael, Selasa (28/4/2026).

Dia menambahkan, tekanan ini nggak berdiri sendiri. Semuanya dipicu oleh pergerakan nilai tukar yang cukup signifikan belakangan ini. Rupiah yang tembus Rp17.000 per dolar AS jadi pemicu awal, sampai akhirnya menyentuh puncak Rp17.300.

“Menyusul, terjadi aksi sell-off oleh investor asing di sektor perbankan,” imbuhnya. Jadi, efeknya berantai.

Di sisi lain, Michael melihat ada peluang juga di tengah situasi begini. Menurut dia, sektor komoditas justru bisa diuntungkan dari kondisi perang di Timur Tengah yang masih memanas. Jadi, nggak semuanya suram.

“Sektor-sektor yang diuntungkan dari kondisi perang di Timur Tengah adalah komoditas,” tuturnya.

Ingat ya, keputusan jual-beli saham sepenuhnya ada di tangan investor masing-masing. Risiko tanggung sendiri.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar