Pekan Terakhir April 2026: Tiga Faktor Global Picu Ketegangan Pasar Minyak dan Emas

- Minggu, 26 April 2026 | 16:35 WIB
Pekan Terakhir April 2026: Tiga Faktor Global Picu Ketegangan Pasar Minyak dan Emas

IDXChannel – Pekan terakhir April 2026 bakal jadi momen yang menegangkan buat pasar komoditas dan mata uang global. Setidaknya, itu yang banyak dibicarakan para pelaku pasar sekarang.

Bukan tanpa alasan. Ada tiga hal besar yang saling bertumpuk: ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang makin panas, transisi kepemimpinan di Bank Sentral Amerika Serikat, plus ulah kebijakan luar negeri Donald Trump. Tiga faktor ini, kata para analis, bakal jadi penentu utama pergerakan harga emas dan minyak mentah dalam waktu dekat.

Ibrahim Assuaibi, pengamat pasar uang dan komoditas, punya pandangan sendiri. Menurut dia, situasi di Selat Hormuz sekarang ini benar-benar genting. Iran disebut-sebut sudah menutup jalur distribusi energi di sana. Akibatnya? Harga minyak langsung melonjak, dan efeknya sudah terasa ke inflasi global.

“Nah Iran sendiri ya mengatakan bahwa siap untuk perang. Artinya apa? Minggu depan ini, akhir pekan, akhir bulan April ini cukup krusial. Apakah akan terjadi perang atau akan terjadi perdamaian di wilayah Timur Tengah. Kejadian di Timur Tengah ini cukup menonjol karena berhubungan dengan Selat Hormuz,” ujar Ibrahim dalam analisisnya, Minggu (26/4/2026).

Dari sisi emas, harganya ditutup di level USD4.708 per troy ons. Tapi menurut Ibrahim, ruang penguatannya masih lebar. Kalau tensi geopolitik terus memanas dan sepertinya memang begitu harga emas bisa tembus ke resistensi USD4.779 per troy ons. Kalau itu terjadi, harga logam mulia di dalam negeri bisa meroket ke kisaran Rp2.865.000 per gram.

Tapi jangan keburu optimis. Sebaliknya, kalau suasana tiba-tiba mendingin entah karena perundingan atau tekanan internasional level support pertama ada di USD4.651 per troy ons. Di pasar lokal, itu artinya harga emas bisa turun ke sekitar Rp2.800.000 per gram.

“Apa yang mempengaruhi logam mulia emas dunia? Harga minyak, kemudian indeks dolar berfluktuasi. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi. Yang pertama adalah faktor geopolitik. Kemudian yang kedua perpolitikan di Amerika. Kemudian yang ketiga kebijakan bank sentral. Kemudian yang keempat adalah supply and demand,” tutur dia.

Nah, dari sisi mata uang, indeks dolar diproyeksikan bergerak di rentang 96,6 hingga 102,5. Pasar sekarang fokus banget sama pergantian Gubernur Bank Sentral AS. Jerome Powell akan digantikan Kevin Warsh di akhir bulan ini. Ibrahim menilai, Kevin Warsh kemungkinan besar bakal mempertahankan suku bunga tinggi, terutama kalau harga minyak terus mendorong inflasi. Meskipun ya, ada tekanan politik dari Gedung Putih.

Ibrahim juga menyoroti perombakan di jajaran militer AS oleh Trump. Katanya, ini persiapan kalau-kalau perundingan gencatan senjata dengan Iran gagal total.

“Trump sendiri menginginkan, kalau seandainya gagal dalam perundingan gencatan senjata, Amerika akan melakukan penyerangan terhadap kapal-kapal Iran yang ada di Selat Hormuz. Nah ini berarti genderang perang yang akan dilakukan oleh Amerika dan ini akan membuat ketegangan tersendiri,” tutur Ibrahim.

Di tengah semua ketidakpastian ini, negara-negara anggota BRICS justru bergerak diam-diam. Mereka terus memborong emas sebagai cadangan devisa. Ini jadi faktor fundamental yang bikin harga emas tetap kokoh, meskipun dolar lagi naik turun.

“Negara-negara anggota BRICS tahu bahwa kemungkinan besar perang ini akan panjang. Sehingga pada saat harga logam mulia mengalami penurunan, ini kesempatan terbaik bagi negara-negara Bank Sentral anggota BRICS untuk memupuk kekayaannya dengan membeli logam mulia,” kata Ibrahim.

(DESI ANGRIANI)

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar