Analis Proyeksi Laba Bersih BULL Melonjak 688% di Tengah Konflik Timur Tengah

- Sabtu, 18 April 2026 | 13:55 WIB
Analis Proyeksi Laba Bersih BULL Melonjak 688% di Tengah Konflik Timur Tengah

Konflik di Timur Tengah kembali memicu gejolak di pasar pelayaran global. Kali ini, PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) justru dipandang bakal meraup keuntungan dari situasi yang bergejolak. Pemicunya? Lonjakan tarif sewa kapal atau charter rate yang meroket, terutama untuk rute-rute yang menghindari titik panas seperti Selat Hormuz.

Menariknya, BULL dinilai punya posisi yang cukup aman. Menurut analis Samuel Sekuritas, perusahaan ini tidak punya eksposur langsung ke jalur kritis yang jadi pusat ketegangan AS-Iran. Alhasil, mereka justru bisa memanfaatkan kenaikan tarif pengangkutan minyak yang terjadi di pasar lain. Ini jadi peluang bagus di tengah kekacauan.

Faktanya, hampir semua pendapatan dari kapal tanker minyak BULL tepatnya 98% bersumber dari pasar spot freight. Jadi, ketika tarif sewa melonjak, dampaknya langsung terasa ke kinerja. Lihat saja data Februari 2026: tarif harian untuk kapal jenis Aframax bisa menyentuh USD 105.000! Angka itu melambung 222% dibanding periode sama tahun sebelumnya.

Dengan kondisi itu, proyeksi untuk BULL pun terlihat agresif. Pendapatan mereka pada 2026 diprediksi mencapai USD 434 juta, atau naik drastis 193%. Pertumbuhan ini juga akan dapat sokongan dari bisnis LNG yang baru dirintis, dengan kontribusi sekitar USD 51 juta.

Tak cuma pendapatan, laba operasional sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) diperkirakan melesat 269% jadi USD 179 juta. Yang lebih fantastis, laba bersihnya diproyeksikan membengkak hingga 688% secara tahunan. Lonjakan yang benar-benar signifikan.

Di sisi lain, BULL juga tak tinggal diam. Mereka sedang gencar memperkuat portofolio, khususnya dengan menambah armada di segmen liquefied natural gas (LNG). Targetnya, pada 2026 mereka sudah punya lima kapal LNG. Saat ini, portofolio mereka masih didominasi sembilan kapal minyak dan gas.

Ekspansi ini sudah mulai jalan. Mereka mengakuisisi satu kapal LNG pada Desember 2025, lalu menambah satu lagi di kuartal pertama 2026. Rencananya, tiga kapal LNG tambahan akan menyusul di paruh kedua tahun ini. Untuk semua itu, belanja modal atau capex yang disiapkan bisa mencapai USD 125 juta.

Selain soal armada, ada juga manuver di sisi korporasi. Perusahaan sedang menjajaki masuknya investor strategis lewat skema rights issue. Mereka juga berencana menunjuk komisaris independen baru yang punya afiliasi dengan Grup Sinarmas. Langkah ini sejalan dengan ambisi grup tersebut memperluas bisnis pelayaran LNG secara global.

"Rekomendasi buy untuk saham BULL dengan target harga Rp700, yang mencerminkan potensi kenaikan sekitar 43 persen dari posisi saat ini. Valuasi tersebut didukung oleh rasio EV/EBITDA 2026 sebesar 4,0 kali, atau sekitar 20 lebih murah dibandingkan perusahaan tanker sejenis,"

Demikian kutipan laporan Samuel Sekuritas yang dirilis Jumat (16/4/2026). Meski optimis, analis juga mengingatkan sejumlah risiko. Di antaranya, potensi penurunan tarif angkutan di kemudian hari, kenaikan biaya operasional akibat konflik yang berkepanjangan, dan kemungkinan realisasi ekspansi bisnis LNG yang lebih lambat dari rencana. Semua itu perlu dicermati sebelum mengambil keputusan.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar