Sharif Burra, CEO Yancoal, menyebut langkah ini strategis.
"Langkah ini memperkuat posisi Yancoal sebagai produsen batu bara terkemuka di Australia sekaligus memberikan nilai tambah bagi pemegang saham," ujarnya.
Bagi Yancoal, akuisisi Kestrel akan mendiversifikasi portofolio mereka yang selama ini didominasi batu bara termal. Mereka berencana mendanainya dari kas internal, pinjaman, dan tentu saja arus kas operasional di masa depan.
Pembayarannya pun dilakukan bertahap. Ada pembayaran tunai awal USD 1,85 miliar yang ditargetkan selesai di kuartal ketiga 2026. Lalu, ada tambahan pembayaran kinerja hingga USD 550 juta yang nilainya menyesuaikan harga batu bara dalam lima tahun ke depan.
Perlu diingat, kepemilikan di Kestrel tidak sepenuhnya berpindah. Mitsui & Co. asal Jepang masih mempertahankan 20 persen sahamnya di tambang tersebut. Jadi, bagi AADI, ini adalah realisasi nilai investasi yang cukup manis. Mereka masuk pada 2018, dan kini menuai hasilnya. Dan yang paling dinanti-nanti pemegang saham tentu saja: kapan dividen spesial itu benar-benar dibagikan?
Artikel Terkait
IHSG Turun Tipis 0,68% ke 7.623,59 di Tengah Aksi Jual Sektoral
Harga Tembaga Capai Level Tertinggi Enam Pekan, Didorong Harapan Damai Timur Tengah
Zyrex Akuisisi Lahan Rp68 Miliar di Daan Mogot untuk Ekspansi Pabrik
Dua Emiten Baru Kehilangan Lebih dari 80% Investor dalam Tiga Bulan