PT Avia Avian Tbk, si raksasa cat dengan merek Avian itu, lagi mengincar porsi saham lebih besar di PT Dextone Lemindo. Saat ini, mereka sudah memegang 16,67 persen saham perusahaan lem tersebut. Rencana ini diungkapkan dalam sebuah public expose yang digelar Selasa lalu.
Menurut Direktur Avian, Kurnia Hadi Sinanto, rencana penambahan kepemilikan ini masih terbuka. Artinya, belum ada kepastian angka atau waktu. "Untuk saat ini, produk Dextone sudah didistribusikan melalui jaringan distribusi perseroan," ujarnya.
Semuanya akan bergantung pada perkembangan bisnis ke depan. Soalnya, kontribusi pendapatan Dextone hingga akhir 2025 lalu masih terhitung kecil jika dibanding total penjualan Avian. Tapi jangan salah, langkah awal mereka di pasar dinilai cukup menjanjikan.
Buktinya, produk Dextone sudah bisa ditemui di hampir 40.000 toko bahan bangunan. Angka itu dicapai dari total lebih dari 60.000 jaringan distribusi yang dimiliki Avian. Capaian awal ini disebut Kurnia sebagai fondasi yang kuat untuk mengembangkan Dextone di dalam ekosistem mereka.
"Perseroan akan terus memonitor kinerja dan penerimaan pasar terhadap produk Dextone, sekaligus mendorong peningkatan penetrasi di jaringan distribusinya," tutur dia.
Sebelumnya, pada Maret 2025, AVIA sudah merogoh kocek Rp275,84 miliar untuk mengakuisisi 16,67 persen saham Dextone. Akuisisi ini membuka jalan bagi Avian untuk menggarap industri perekat, dengan mendistribusikan produk Dextone lewat anak perusahaannya, PT Tirtakencana Tatawarna.
Setelah transaksi itu, struktur kepemilikan Dextone pun berubah. PT Sinar Panca Kencana kini memegang kendali mayoritas 66,66 persen, disusul PT Ksatria Artha Sentosa dan Avia Avian yang masing-masing memegang 16,67 persen.
Jadi, meski kontribusi finansialnya belum besar, Avian jelas serius. Mereka sedang membidik kendali yang lebih besar, sambil melihat sejauh apa pasar menerima produk lem Dextone di rak-rak toko.
Artikel Terkait
Pemerintah Tegaskan Sistem Tol Tanpa Palang Masih Tahap Uji Fungsi Dasar
Pabrik Baru PT Mulia Boga Raya (KEJU) Ditargetkan Beroperasi Juli 2026
Laba Bersih DADA Melonjak Tiga Kali Lipat Meski Arus Kas Operasi Negatif
WMUU Bakal Rights Issue Rp600 Miliar, Harga Penawaran Lebih Tinggi dari Pasar