Efek dari kabar itu langsung terasa. Harga minyak mentah AS dan Brent sama-sama melemah, masing-masing ke angka USD97,20 dan USD97,93 per barel. Penurunan harga komoditas energi ini jelas meredakan kekhawatiran inflasi.
Di Korea Selatan, semangat itu bahkan lebih terasa. Indeks KOSPI melesat 3,16 persen, menembus level 5.992,19. Ini jadi posisi tertingginya dalam enam pekan terakhir. Pelaku pasar seolah menarik napas lega, dan mulai berani mengambil risiko lagi setelah sebelumnya didera tekanan jual asing di Maret lalu.
Memang, pembicaraan akhir pekan lalu belum menghasilkan kesepakatan final. Tapi menurut sejumlah sumber yang dekat dengan prosesnya, dialog antara Washington dan Teheran masih terus berjalan. Itu saja sudah cukup untuk mengubah mood pasar.
Di sisi lain, penguatan di kawasan Asia lainnya terlihat lebih kalem. Hang Seng Index cuma naik 0,41 persen, sementara Shanghai Composite menguat 0,40 persen. Di Australia, S&P/ASX 200 bertambah 0,59 persen, dan Straits Times Index Singapura naik 0,43 persen. Pergerakannya moderat, tapi setidaknya trennya positif.
Jadi, untuk sementara, pasar bisa sedikit bernafas. Fokus pelan-pelan bergeser dari geopolitik kembali ke fundamental perusahaan. Tentu, semua masih bisa berubah cepat. Tapi hari ini, sentimen damai yang jadi pemimpinnya.
Artikel Terkait
IHSG Melonjak 2,14% Didorong Aksi Beli Luas di Sesi I
Harga Minyak Tembus US$100 per Barel, Pemerintah Didesak Perkuat Ketahanan Energi
PGE dan PLN Sepakati Tarif, Proyek PLTP Lahendong 15 MW Menuju Tahap Konstruksi
Saham Sawit Terus Melaju Didorong Optimisme Mandatori B50