Trump Hapus Unggahan Gambar AI yang Gambarkan Dirinya Mirip Yesus, Picu Kecam

- Selasa, 14 April 2026 | 15:20 WIB
Trump Hapus Unggahan Gambar AI yang Gambarkan Dirinya Mirip Yesus, Picu Kecam

Donald Trump lagi-lagi bikin heboh. Kali ini, mantan Presiden AS itu mengunggah sebuah gambar buatan kecerdasan buatan yang menggambarkan dirinya dengan aura mirip Yesus Kristus. Tak butuh waktu lama, unggahan itu langsung memicu gelombang kecaman, bahkan dari kelompok religius konservatif yang selama ini jadi pendukung setianya.

Gambar kontroversial itu muncul di akun Truth Social-nya pada Minggu (12/04). Tapi, cuma bertahan sehari. Pada Senin (13/04), Trump menghapusnya. Dia bersikeras bahwa gambar itu cuma mau menggambarkan dirinya sebagai seorang "dokter", bukan sosok religius. Semua ini terjadi di tengah ketegangannya dengan Paus Leo.

Paus Leo sendiri belakangan makin vokal mengkritik perang yang dipicu serangan AS-Israel ke Iran. Dia menyebut tindakan itu tidak manusiawi. Menariknya, tak lama sebelum memposting gambar "mirip Yesus" tadi, Trump justru melontarkan serangan panjang ke Paus Leo di media sosialnya. Dia menyebut pemimpin Gereja Vatikan itu "lemah" dan "tidak paham kebijakan luar negeri".

Paus Leo, yang merupakan Paus pertama dari Amerika Serikat, tak tinggal diam. Ia menegaskan bahwa dirinya "tidak takut" pada pemerintahan Trump dan akan terus bersuara. Dalam pidatonya di Aljazair, Senin (13/04), ia mengecam kekuatan "neokolonial" yang melanggar hukum internasional meski tak menyebut AS secara gamblang.

Gambar yang Mengoyak Dukungan?

Unggahan itu berpotensi meretakkan hubungan Trump dengan basis pemilih religiusnya, yang justru jadi kunci kemenangannya di Pilpres 2024. Dalam gambar yang mirip lukisan itu, Trump mengenakan jubah putih. Tangannya memegang bola bercahaya, sementara tangan satunya menyentuh dahi seorang lelaki yang tampak sakit. Latarnya ramai: ada Patung Liberty, kembang api, jet tempur, dan burung elang.

Tapi Trump membantah keras tafsiran itu.

"Itu dimaksudkan untuk menggambarkan saya sebagai seorang dokter yang menyembuhkan orang-orang dan saya memang membuat orang menjadi lebih baik," tegasnya kepada wartawan di Gedung Putih, tak lama setelah gambar itu hilang dari akunnya.

Penjelasan itu dianggap "sangat mencurigakan" oleh Brendan McMahon, profesor sejarah seni di Universitas Michigan. Apalagi, dalam gambar juga ada sosok lain yang berpakaian medis. Trump justru digambarkan diselimuti cahaya, dengan sinar terang di tangannya simbol ketuhanan yang sudah digunakan dalam seni religius selama berabad-abad.

"Ini terinspirasi dari tradisi panjang gambaran Kristen yang menampilkan Kristus sebagai penyembuh," kata McMahon.

Dia menambahkan, dari segi gaya, karya ini seperti mengacu pada realisme sosial era antarperang di AS, semacam mural-mural WPA yang mengangkat pemberdayaan kelas pekerja.

Kritik pun berdatangan. Brilyn Hollyhand, mantan wakil ketua Dewan Penasihat Pemuda Komite Nasional Partai Republik, menulis di X bahwa ini adalah "penistaan yang menjijikkan".

"Agama bukanlah alat peraga. Trump tidak perlu menggambarkan diri sebagai penyelamat ketika rekam jejaknya malah sebaliknya," tulisnya.

Riley Gaines, mantan perenang dan aktivis yang kerap tampil dalam kampanye Trump, juga mengaku bingung.

"Apakah dia benar-benar percaya akan hal ini?" tulis Gaines. "Apa pun itu, Trump harus sedikit rendah hati. Hal itu akan baik baginya dan Tuhan tidak boleh dipermainkan."

Ini masalah serius. Pemilih Kristen, termasuk umat Katolik, adalah pilar penting bagi Trump. Meski tidak rutin ke gereja, dia menang telak di kalangan ini pada 2024. Bahkan, setelah nyaris selamat dari upaya pembunuhan Juli lalu, sebagian pendukung Evangelis menganggapnya sebagai tanda bahwa Trump diberkati Tuhan.

Pilih Paus atau Presiden?

David Gibson dari Pusat Studi Agama dan Budaya di Universitas Katolik Fordham mengaku sulit memahami motif Trump. Tapi, dia ragu apakah umat Katolik AS akan langsung berbalik meninggalkan Trump.

"Apakah langkah ini akan sudah terlalu kelewatan bagi mereka? Ini adalah momen penentu, apakah umat Katolik Amerika akan memilih Paus atau Presiden?" ujar Gibson.

Uskup Robert Barron, yang pernah duduk di komisi kebebasan beragama bentukan Trump, meminta presiden itu meminta maaf kepada Paus Leo atas pernyataannya yang "tidak pantas". Namun dalam unggahan yang sama, Barron juga memuji upaya Trump menjangkau umat Katolik.

Permintaan maaf? Trump bersikukuh. "Saya tidak perlu meminta maaf," katanya kepada wartawan pada hari Senin itu.

Belakangan, Paus Leo memang jadi salah satu pengkritik paling lantang terhadap perang di Iran. Dia bahkan mendesak Trump mencari "jalan keluar" dari konflik.

Ketegangan yang Kian Dalam

Paus Leo berulang kali menegaskan bahwa Yesus tak bisa dipakai untuk membenarkan perang. Pernyataannya itu dianggap sebagai teguran untuk pejabat-pejabat Trump, seperti Menteri Pertahanan Pete Hegseth, yang pernah mengutip ayat Alkitab untuk membenarkan "kekerasan besar-besaran".

Ini bukan pertama kalinya Trump berselisih dengan Vatikan. Dia juga pernah berdebat dengan pendahulu Leo, Paus Fransiskus, yang menentang kebijakan deportasinya. Tahun 2025, setelah wafatnya Fransiskus, Trump bahkan sempat mengunggah gambar dirinya sebagai Paus yang tentu saja bikin marah banyak umat Katolik.

Tapi serangan kali ini dinilai jauh lebih keras. "Ini bukan sekadar perbedaan pendapat," kata Gibson. "Ini adalah penistaan dan itu bahaya besar bagi Trump."

Lalu, bagaimana dengan para politisi Katolik di sekeliling Trump? Setidaknya delapan anggota kabinetnya beragama Katolik, termasuk Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio.

Vance sendiri berusaha meredam kontroversi. Dalam wawancara dengan Fox News, dia bilang Trump cuma bercanda dengan mengunggah gambar itu. Menurutnya, Vatikan sebaiknya fokus pada isu-isu moral saja.

Perseteruan ini masih panas. Dan yang jelas, gambar AI sederhana itu telah membuka kotak Pandora baru dalam politik identitas dan agama di Amerika.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar