Dari Kantoran ke Pengusaha Kuliner, Dian Kembangkan Serundeng Krispi Tembus Pasar Eropa Berkat Pelatihan Rumah BUMN BRI

- Jumat, 29 Mei 2026 | 23:15 WIB
Dari Kantoran ke Pengusaha Kuliner, Dian Kembangkan Serundeng Krispi Tembus Pasar Eropa Berkat Pelatihan Rumah BUMN BRI

Seorang perempuan paruh baya menuruni anak tangga rumah berkelir putih di kawasan Jakarta Barat, Senin sore. Ia baru saja menyelesaikan kelas keuangan yang berlangsung sejak siang. Dian, pemilik merek dagang kuliner "Dirasa", adalah salah satu dari puluhan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang mengikuti pelatihan di Rumah BUMN BRI. Di tempat itulah, ia mengaku usahanya perlahan menemukan arah dan berkembang.

"Ibu bergerak di kuliner dengan brand Dirasa. Ibu sebagai owner," ujarnya saat berbincang di sela-sela kegiatan.

Sebelum merintis usaha makanan, Dian menghabiskan hampir 20 tahun sebagai pekerja kantoran, termasuk di bagian pemasaran asuransi. Latar belakang pendidikan kejuruan yang ia miliki membuatnya yakin bisa sukses di industri kuliner. Kini, ia memasarkan hampir 20 jenis produk, sebagian besar berupa kue kering dan aneka makanan. Salah satu produk unggulannya adalah serundeng krispi, yang menurut Dian, menjadi satu-satunya di Indonesia dengan varian renyah tersebut.

"Kenapa saya mau mengembangkan produk tersebut karena belum terlalu banyak saingan dan termasuk produk yang unik," tuturnya.

Produk Dian bahkan sempat menembus pasar Eropa. Pekan lalu, barang dagangannya lolos kurasi dari seorang pembeli asal Abu Dhabi. Sebelumnya, produk serupa juga telah dikirim ke Eropa dan mendapatkan pesanan ulang. Dian menunjukkan foto-foto produknya yang pernah dibawa ke berbagai pameran, termasuk foto dirinya bersama sejumlah pejabat. Salah satu yang paling ia ingat adalah pertemuannya dengan mantan Wakil Gubernur Jakarta, Sandiaga Salahuddin Uno.

"Itu mula-mula Ibu pakai kemasan bening tiga tahun lalu," kenangnya.

Sandiaga, kata Dian, menyukai rasa serundeng krispi buatannya. Namun, ia juga memberikan masukan penting: mengganti kemasan plastik transparan dengan desain yang lebih menarik. Dian mengikuti saran itu, dan sejak saat itu usahanya terus berkembang.

Perjalanan Dian bersama Rumah BUMN BRI dimulai secara tidak sengaja. Awalnya, ia diajak menabung di BRI dan ditawari pembuatan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) secara gratis. Ketertarikan itulah yang membuatnya bergabung sebagai anggota dan mengikuti berbagai program pelatihan.

"Akhirnya dengan QRIS tersebut Ibu setiap transaksi dengan digital Ibu alhamdulillah terbantu. Jadi untuk QRIS sendiri Ibu gunakan untuk kalau ada pemasukan uang, terutama kalau ada penjualan. Jadi tidak dicampurkan dengan keuangan pribadi, lebih teratur," jelasnya.

Dua tahun lebih sudah Dian mengikuti program-program di Rumah BUMN BRI. Ia mengaku mendapatkan banyak manfaat, terutama dalam hal kualitas usaha dan perluasan pengetahuan. Meski sudah berpengalaman, ia merasa perlu terus belajar demi kemajuan bisnisnya.

"Kita selalu mendapatkan ilmu yang dulunya tidak pernah didapatkan. Kalau di Rumah BUMN kan selalu ada pelatihan-pelatihan yang berkaitan dengan bisnis kita," ucapnya.

Bantuan lain yang ia terima adalah 500 bungkus kemasan baru saat pertama kali mengganti tampilan produk. "Awal ganti packaging, Ibu pernah dibantu dari BRI 500 pieces, itu sangat kebetulan sekali mau ganti mendapat rejeki dari BRI. Setelah habis, Ibu lanjut pesan ke pabrik kemasan sendiri," katanya.

Rumah BUMN BRI di Jakarta tidak hanya menjadi tempat pelatihan, tetapi juga pusat digitalisasi bagi UMKM. Tujuannya adalah memperluas jangkauan pasar dan membantu para pelaku usaha kecil agar mampu naik kelas. Koordinator Rumah BUMN Jakarta, Jajang Rohmana, menegaskan bahwa pendampingan yang diberikan mencakup pengembangan keterampilan kewirausahaan, akses permodalan, hingga jejaring pasar.

"Setiap senyuman dari pelaku UMKM yang berhasil naik kelas adalah energi bagi kami," ujarnya.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar