Selain ketegangan geopolitik ini, data inflasi AS yang dirilis Jumat lalu juga memberi tekanan. Angkanya melonjak, didorong kenaikan harga energi dari konflik Iran. Hal ini semakin mengukuhkan ekspektasi bahwa The Fed akan menahan diri untuk memotong suku bunga dalam waktu dekat. Pasar kini menunggu data indeks harga produsen Maret yang dirilis Selasa ini.
Nah, dari dalam negeri sendiri, ada kabar yang cukup positif. Bank Pembangunan Asia (ADB) memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,2 persen di 2026. Angka ini lebih tinggi dari realisasi tahun lalu, meski sedikit di bawah target pemerintah. Proyeksi inflasi pun masih dalam koridor yang ditetapkan Bank Indonesia.
Tapi, ADB juga memberi catatan. Mereka mewanti-wanti sejumlah risiko yang bisa mengganggu. Ketegangan geopolitik global dan fluktuasi harga energi komoditas tetap jadi ancaman serius bagi stabilitas. Belum lagi kebijakan moneter ketat AS yang berlangsung lebih lama istilah kerennya 'higher for longer' yang berpotensi bikin aliran modal di negara berkembang, termasuk Indonesia, jadi makin bergejolak.
Oleh karena itu, ADB menyarankan pemerintah untuk tidak lengah. Percepatan reformasi struktural dinilai krusial untuk mendongkrak produktivitas dan daya saing. Soal fiskal, optimalisasi penerimaan dan efisiensi belanja negara harus jadi prioritas agar punya ruang gerak jika terjadi guncangan.
Satu hal lagi: lapangan kerja. Pertumbuhan kerja formal di sektor manufaktur sangat penting untuk transformasi yang inklusif. Sektor pertanian, meski menyerap banyak tenaga, masih berkutat pada produktivitas rendah dan informalitas yang tinggi.
Melihat semua faktor ini, Ibrahim Assuaibi memperkirakan pergerakan rupiah ke depan masih akan fluktuatif. Potensi pelemahan masih terbuka, dengan kisaran yang dia prediksi berada di antara Rp17.100 hingga Rp17.150 per dolar AS.
Artikel Terkait
RGAS Rencanakan Diversifikasi ke Bisnis Material Konstruksi pada 2026
Prabowo Ucapkan Terima Kasih kepada Putin atas Dukungan Masuknya Indonesia ke BRICS
YULE Bagikan Dividen Rp15,8 Miliar, Cair 13 Mei 2026
Transaksi SPPA BEI Melonjak 461% Didorong Fitur Repo