"Gencatan senjata ini memang katalis positif jangka pendek, tapi sifatnya sementara," ujar Rully.
Dia memperingatkan, pasar tetap rentan. "Semua bisa berbalik kalau de-eskalasi konflik tidak berkelanjutan," katanya.
Rully juga menyoroti kondisi rupiah yang masih rentan berkutat di Rp16.900 sampai Rp17.100 per dolar AS. Risiko capital outflow, atau keluarnya dana asing, masih mengintai. Ini tak lepas dari kondisi fiskal yang terlihat melebar.
Selain isu global, investor dalam negeri punya pekerjaan rumah sendiri. Defisit APBN yang merangkak ke 0,9% dari PDB jadi salah satu risiko struktural yang perlu diawasi ketat.
Dan jangan lupakan faktor eksternal lain yang tak kalah krusial: rencana peninjauan indeks MSCI pada 12 Mei mendatang. Hasil review ini, bagi banyak pelaku pasar, akan jadi penentu arah aliran dana asing dalam beberapa pekan ke depan. Keputusannya bisa bikin pasar bergerak signifikan.
Artikel Terkait
Transaksi SPPA BEI Melonjak 461% Didorong Fitur Repo
Rupiah Melemah Tipis di Tengah Ketegangan AS-Iran dan Data Inflasi AS
MCOL Dirikan Anak Usaha Rp18,75 Miliar untuk Garap Bisnis Data dan TI
Pemerintah Hapus 11.014 Nama dari Daftar Penerima Bansos Mulai April 2026