Selama ini, Lo Kheng Hong jarang atau bahkan tak pernah menyinggung soal kepemilikan saham SRIL di publik. Padahal, dia dikenal cukup terbuka soal portofolionya. Namun, dalam beberapa kesempatan, dia pernah mengakui bahwa dirinya bukanlah sosok yang tak pernah salah.
"Ya pasti ada (salah beli saham), kan saya bukan dewa. Meskipun saya sudah menjadi investor saham 36 tahun, bisa saja salah (beli). Tapi salahnya mungkin kalau saya beli 10, salahnya 1," ujarnya suatu kali.
Dia mengaku kesalahan itu tidak hanya pada satu saham. Beberapa saham lain dalam portofolionya juga pernah jadi "blunder", meski dia enggan merinci lebih jauh.
Kembali ke Sritex, saham SRIL saat ini sedang disuspensi dan tak bisa diperdagangkan. Meski begitu, BEI mengingatkan bahwa kewajiban perusahaan terhadap Bursa tidak serta-merta hilang. Di sisi lain, BEI juga mengimbau emiten untuk melakukan buyback saham menyusul keputusan delisting ini. Langkah itu tentu untuk melindungi para pemegang saham publik yang masih tersisa.
Jadi, itulah akhir perjalanan Sritex di papan utama BEI. Sebuah babak yang akan ditutup pada November 2026, dengan meninggalkan cerita dan nama-nama besar yang sempat terlibat di dalamnya.
Artikel Terkait
ARNA Bagikan Dividen Rp330 Miliar, Setara Rp45 per Saham untuk Tahun Buku 2025
Analis Proyeksikan Guncangan Pasar Global, Rupiah Tertekan hingga Level 17.000
Harga Emas Antam di Pegadaian Naik Tipis, Dua Produk Lainnya Stabil
Harga Emas Antam Stagnan di Rp 2,86 Juta per Gram