Risalah rapat terbaru The Fed malah bikin was-was. Ternyata, para pejabat bank sentral mulai serius mempertimbangkan opsi menaikkan suku bunga lagi. Tujuannya jelas: untuk melawan dampak inflasi yang dipicu oleh perang Iran yang berkepanjangan.
Dari semua sektor di S&P 500, energi jadi penyumbang penurunan terbesar. Sebaliknya, saham-saham barang konsumen non-esensial justru merajai kenaikan.
Di lantai bursa NYSE, suasana lebih optimis. Saham yang naik jumlahnya hampir dua kali lipat dibanding yang turun, dengan rasio 1,99 banding 1. Ada 254 saham yang cetak rekor tertinggi baru, sementara 83 lainnya justru terjun ke level terendah baru.
Pergerakan serupa terlihat di Nasdaq. Sekitar 2.651 saham naik dan 2.029 turun, dengan rasio penguat lebih unggul di 1,31 banding 1.
Secara khusus, indeks S&P 500 mencatat 44 rekor tertinggi baru dalam setahun terakhir dan 19 rekor terendah. Nasdaq Composite lebih ekstrem: ada 158 rekor tertinggi baru, tapi diimbangi dengan 135 rekor terendah baru. Pasar memang sedang terpecah.
Volume perdagangan hari ini tercatat 17 miliar saham. Angka itu masih kalah dibanding rata-rata 20 hari terakhir yang sekitar 19,38 miliar saham. Mungkin banyak investor yang masih memilih menunggu di pinggir lapangan, mencari kejelasan arah.
Artikel Terkait
Gencatan Senjata AS-Iran Pacu Bursa Asia Menguat, Investor Tetap Waspada
IHSG Menguat Hampir 1 Persen di Awal Perdagangan Jumat
Harga Emas Antam Naik Rp7.000 per Gram, Buyback Melonjak Lebih Tinggi
Analis Proyeksikan IHSG Koreksi Hari Ini Meski Kemarin Menguat