Goldman Sachs ternyata masih ngotot dengan prediksinya soal emas. Meski harga logam kuning sempat anjlok belakangan ini, raksasa keuangan itu tetap mempertahankan target harga emas di angka USD 5.400 per troy ounce untuk akhir tahun 2026. Ya, angka yang cukup fantastis itu masih dipegang teguh.
Lalu, apa yang jadi alasan mereka? Ternyata, analis Goldman Sachs, Lina Thomas dan Daan Struyven, punya keyakinan kuat. Mereka melihat prospek penurunan suku bunga The Fed, posisi spekulatif yang akan normal, dan yang tak kalah penting: bank-bank sentral di berbagai negara masih akan terus membeli emas. Faktor-faktor inilah yang diyakini bakal mendongkrak harga.
Padahal, kalau kita lihat fakta di lapangan, situasinya tidak begitu cerah. Sejak konflik di Timur Tengah memanas, harga emas batangan justru terpangkas sekitar 15 persen, nyaris menyentuh level USD 4.580. Tapi bagi Thomas dan Struyven, penurunan ini wajar dan bisa dijelaskan.
Mereka mengaitkan pelemahan itu dengan karakter konflik yang terjadi. Perang telah memicu gangguan pasokan energi, yang ujung-ujungnya bikin khawatir soal inflasi. Kekhawatiran ini lalu membuat pasar memprediksi The Fed akan memotong suku bunga tahun ini. Nah, dalam situasi seperti ini, emas punya pola tersendiri.
“Emas berperilaku berbeda tergantung pada jenis guncangan inflasi,” begitu penjelasan kedua analis tersebut.
Menurut mereka, dalam kondisi stagflasi yang dipicu masalah pasokan seperti yang terjadi sekarang komoditas secara historis lebih diuntungkan ketimbang emas. Logam mulia ini justru bersinar maksimal ketika ancaman datang dari hal lain, misalnya keraguan publik terhadap kemampuan bank sentral mengendalikan harga.
Artikel Terkait
BNI Lepas 99,9% Saham BNI Asset Management ke Danantara Rp359,64 Miliar
PLN Tegaskan Tidak Ada Pengembalian Dana untuk Token Listrik yang Salah Beli
Laba Tugu Insurance Melonjak 77% Jadi Rp711 Miliar di 2025
Wall Street Hadapi Pekan Penuh Ujian: Data Inflasi dan Laporan Laba Jadi Sorotan