Di sisi lain, ada juga isu yang beredar soal bank sentral yang mulai jual emas. Kabarnya, Turki telah melepas sekitar 52 ton. Apakah negara-negara Teluk akan ikut-ikutan? Thomas dan Struyven meragukannya.
Mereka menepis kekhawatiran itu. Cadangan emas negara Teluk proporsinya jauh lebih kecil, dan sistem mata uang mereka umumnya dipatok ke dolar. Jadi, kalau pun butuh likuiditas, kemungkinan besar mereka akan jual obligasi pemerintah AS, bukan emasnya.
Namun begitu, bukan berarti perjalanan menuju USD 5.400 itu mulus. Masih ada risiko yang mengintai. Para analis itu sendiri memberi peringatan: jika gangguan di Selat Hormuz berlarut-larut dan pasar saham terus melemah, harga emas bisa terperosok hingga USD 3.800 dalam skenario terburuk.
Tapi sebaliknya, ada juga potensi untuk melambung lebih tinggi. Ketegangan geopolitik termasuk perkembangan di Greenland dan Venezuela bisa memicu akselerasi diversifikasi aset dari instrumen Barat. Kalau ini terjadi, harga bisa melesat mendekati USD 5.700, bahkan mungkin menyentuh USD 6.100.
Jadi, meski pasar tampak lesu sekarang, Goldman Sachs tetap melihat cahaya di ujung terowongan. Mereka yakin faktor fundamental akan berbicara pada waktunya.
Artikel Terkait
BNI Lepas 99,9% Saham BNI Asset Management ke Danantara Rp359,64 Miliar
PLN Tegaskan Tidak Ada Pengembalian Dana untuk Token Listrik yang Salah Beli
Laba Tugu Insurance Melonjak 77% Jadi Rp711 Miliar di 2025
Wall Street Hadapi Pekan Penuh Ujian: Data Inflasi dan Laporan Laba Jadi Sorotan