Wall Street Menguat Didorong Sinyal Damai Trump untuk Konflik Iran

- Selasa, 31 Maret 2026 | 23:20 WIB
Wall Street Menguat Didorong Sinyal Damai Trump untuk Konflik Iran

Dalam sebulan terakhir, S&P 500 anjlok lebih dari 7%. Kuartal pertama yang awalnya diharapkan cerah, berakhir suram. Alih-alih dapat dukungan ekonomi kuat dan penurunan suku bunga The Fed, yang ada justru ketidakpastian dan perang. Saham AS sedang menuju kuartal terburuk dalam hampir empat tahun.

Pasar Tenaga Kerja Mulai Lesu

Indikator kepercayaan konsumen AS sedikit membaik di Maret. Tapi yang menarik, ekspektasi inflasi responden survei untuk tahun depan justru melonjak ke level tertinggi sejak Agustus 2025, didorong guncangan harga minyak.

Laporan terpisah dari Biro Statistik Tenaga Kerja AS (JOLTS) menunjukkan 6,882 juta lowongan pekerjaan pada Februari. Angkanya turun dari revisi Januari dan sedikit di bawah perkiraan.

Yang lebih mengkhawatirkan, tingkat perekrutan pada Februari turun jadi 3,1%. Ini level terendah sejak April 2020.

Heather Long, kepala ekonom di Navy Federal, berkomentar keras melalui X.

"Ini adalah resesi perekrutan. Dan orang Amerika merasakannya. Ada penurunan perekrutan yang signifikan pada Februari di sektor perhotelan dan konstruksi," katanya.

"Intinya: Pasar kerja sudah membeku sebelum perang di Iran dimulai. Sangat mengkhawatirkan bahwa situasi 'tidak ada perekrutan, tidak ada pemecatan' dapat dengan cepat berubah menjadi pasar kerja 'tidak ada perekrutan, mulai pemecatan' jika tidak ada resolusi segera," tambah Long.

Data JOLTS ini jadi pembuka sebelum laporan payroll non-pertumbuhan Februar yang ditunggu Jumat nanti.

Di sisi lain, investor juga memantau kinerja emiten pasca penutupan pasar. Mereka mencari tahu seberapa besar dampak perang terhadap perusahaan AS. Nike adalah salah satu yang diawasi.

Di antara saham aktif, produsen rempah McCormick anjlok lebih dari 5% setelah setuju bergabung dengan bisnis makanan Unilever. Gabungan keduanya bakal ciptakan raksasa dengan pendapatan sekitar USD20 miliar.

Berbeda nasib, saham Marvell Technology melonjak 6,6% setelah mereka menjalin kemitraan infrastruktur AI dengan Nvidia. Nvidia sendiri berencana investasi USD2 miliar di Marvell.

Microsoft juga ikut naik lebih dari 2%. Raksasa software itu berencana investasi lebih dari USD1 miliar untuk infrastruktur AI di Thailand dalam dua tahun ke depan.

Editor: Novita Rachma


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar