Di sisi lain, Jim Bianco dari Bianco Research punya pandangan lebih sinis. Menurutnya, pernyataan dari pihak AS sudah kehilangan daya magisnya.
“Setiap pernyataan Trump soal kesepakatan hanya menjadi noise bagi pasar. Hanya jika Iran menyatakan negosiasi berjalan baik, itu baru akan berdampak,” katanya.
Faktanya, ketegangan itu langsung terpantul di harga komoditas. Minyak mentah Brent melonjak 3,4 persen ke level USD105,32 per barel jauh dari angka USD70 sebelum perang. Minyak mentah AS juga naik 5,5 persen menjadi USD99,64. Ada analis dari Macquarie yang bahkan memprediksi harga bisa tembus USD200 per barel jika konflik masih berlangsung hingga pertengahan 2026. Bayangkan dampak inflasi globalnya jika itu terjadi, mengingat produksi dan distribusi energi di Teluk Persia terus terganggu.
Tekanan di lantai bursa terasa menyeluruh. Mayoritas emiten di S&P 500 melemah. Raksasa teknologi seperti Amazon dan Meta masing-masing terpangkas sekitar 4 persen. Nvidia juga ikut merosot 2,2 persen. Sektor konsumsi non-primer pun terkapar, dengan saham-saham seperti Norwegian Cruise Line, Starbucks, dan Chipotle ikut tertekan.
Belum cukup dengan itu, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS turut menambah beban. Yield Treasury 10 tahun sempat menyentuh 4,48 persen sebelum akhirnya ditutup di 4,43 persen. Kenaikan ini berpotensi mendongkrak suku bunga kredit dan pada ujungnya, memperlambat laju ekonomi. Semuanya seperti lingkaran setan yang saling memperparah.
Pekan ini, Wall Street benar-benar merasakan dinginnya koreksi dan panasnya perang, sekaligus.
Artikel Terkait
IHSG Melemah Meski Transaksi Melesat, Aksi Jual Asing Capai Rp22,37 Triliun
RAAM Rencanakan Rights Issue 1,36 Miliar Saham untuk Ekspansi Bioskop
PT Adhi Kartiko Pratama Siap Bayar Denda Hutan Rp158,9 Miliar
BUMA Catat Rugi Bersih USD 116 Juta di Tengah Gangguan Operasional dan Cuaca Buruk