Wall Street bersiap menghadapi ujian berat pekan depan. Sentimen pasar, yang sudah lesu, akan diuji oleh laporan ketenagakerjaan AS yang sangat dinanti. Tak cuma itu, mata investor juga masih tertuju ke Timur Tengah, di mana konflik telah memasuki bulan kedua tanpa tanda-tanda reda.
Dampak perang terhadap harga energi terus jadi momok. Pasokan minyak dunia terpangkas, mendorong harga minyak mentah AS melonjak lebih dari 60 persen sejak awal tahun. Angkanya kini mendekati level psikologis 100 dolar AS per barel. Akibatnya, harga bensin di dalam negeri AS sendiri meroket hingga 4 dolar per galon. Ini ancaman serius bagi daya beli konsumen, yang jadi penopang utama ekonomi Amerika.
Di sisi lain, kekhawatiran inflasi kembali menghantui. Imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) melesat ke level tertinggi sejak musim panas lalu. Kenaikan ini jadi tekanan baru bagi valuasi saham, yang sudah terengah-engah.
Buktinya? Jatuhnya pasar saham pada Kamis lalu memperpanjang derita indeks S&P 500 menjadi pekan kelima berturut-turut merosot. Sejak serangan AS-Israel ke Iran akhir Februari lalu, indeks acuan itu telah anjlok hampir 6 persen. Posisi Nasdaq bahkan lebih parah: indeks teknologi itu resmi masuk fase koreksi setelah terperosok lebih dari 10 persen dari puncaknya bulan Oktober.
Jim Baird, Chief Investment Officer di Plante Moran Financial Advisors, menggambarkan situasinya dengan jelas.
"Sepanjang pekan, berbagai sinyal yang saling bertentangan mengenai kemungkinan meredanya krisis membuat harga aset berfluktuasi tajam. Saham kemungkinan akan tetap bergerak mengikuti perkembangan berita utama dalam beberapa hari mendatang," ujarnya.
Selasa depan juga menandai berakhirnya kuartal pertama yang suram untuk saham AS. Konflik geopolitik bukan satu-satunya masalah. Kekhawatiran soal gangguan bisnis oleh AI dan gejolak di pasar kredit swasta turut menggoyang kepercayaan investor. Setelah tiga tahun meroket, S&P 500 kini tercatat merosot lebih dari 5 persen sepanjang 2026.
Nah, semua mata kini tertuju pada data ketenagakerjaan Maret. Menurut sejumlah proyeksi, laporan payrolls diperkirakan hanya menambah sekitar 48.000 lapangan kerja dengan pengangguran di angka 4,5 persen. Laporan ini dijadwalkan rilis 3 April, bertepatan dengan libur pasar saham AS untuk Good Friday. Situasinya makin tegang mengingat data Februari lalu mengejutkan dengan hilangnya 92.000 pekerjaan.
Pekan depan juga akan menyajikan serangkaian data lain, mulai dari penjualan ritel hingga aktivitas sektor manufaktur dan jasa. Data-data inilah yang akan memberi gambaran lebih utuh tentang kesehatan ekonomi.
Kondisi ketenagakerjaan yang memburuk sebelumnya memaksa The Fed memangkas suku bunga tahun lalu. Kini, bank sentral AS mungkin akan menghadapi dilema yang pelik jika laporan nanti ternyata lebih buruk dari perkiraan. Antara mendukung pasar tenaga kerja atau menahan laju inflasi yang dipicu harga energi pilihannya tidak mudah.
Jadi, bersiaplah untuk pekan yang penuh gejolak. Pasar saham seperti kapal di lautan berbadai, menunggu isyarat dari data ekonomi dan kabar dari medan perang.
Artikel Terkait
PACK Pastikan Regulasi Ekspor Baru Tak Ganggu Kinerja Perusahaan
IHSG Ditutup Menguat 1,49 Persen ke Level 6.218,86 pada Sesi Pertama Perdagangan
45 Emiten Jadwalkan Pembagian Dividen pada Juni 2026, INTP Tertinggi Rp468 per Saham
CTBN Bagikan Dividen Rp372,17 Miliar untuk Tahun Buku 2025