Di sisi lain, data dari Bank of America menunjukkan betapa suramnya suasana. Investor menarik dana besar-besaran: USD3,3 miliar dari obligasi negara berkembang dan lebih dari USD5 miliar dari obligasi korporasi berimbal hasil tinggi, semua hanya dalam pekan hingga 19 Maret. Penarikan terakhir itu adalah yang terbesar sejak guncangan tarif AS setahun yang lalu.
Efek perang terasa jelas pada spread kredit. Untuk negara seperti Mesir dan Turki, spread-nya melebar signifikan karena perekonomian mereka dianggap paling rentan terkena dampak. Bahkan Arab Saudi, raksasa minyak dunia, spread-nya juga ikut melebar. Mesir dan Turki sendiri sangat bergantung pada impor energi dan pangan, jadi kenaikan harga di dua sektor itu langsung jadi pukulan berat.
Indeks obligasi pasar berkembang JPMorgan (EMBI) menunjukkan tren yang sama. Spread antara utang dolar negara berkembang dan obligasi pemerintah AS melebar 17 basis poin sejak akhir Februari, jadi 268 basis poin. Mesir bertambah 44 basis poin, Turki melebar 36 basis poin.
Tapi lihat Angola. Justru sebaliknya. Spread-nya dalam periode sama malah menyempit 39 basis poin, menjadi 504 basis poin. Ini menunjukkan investor justru meminta premi risiko yang lebih kecil untuk meminjamkan uang ke negara Afrika Barat itu dibanding sebelum perang. Perusahaan telekomunikasi Afrika, Helios Towers, juga masih bisa menerbitkan utang pekan ini. Tapi bagi kebanyakan pihak lain, situasinya jauh lebih sulit.
Ketidakpastiannya memang besar. Konflik ini sudah melibatkan serangan-serangan dahsyat terhadap infrastruktur energi di negara Teluk, belum lagi penutupan Selat Hormuz yang vital bagi perdagangan minyak global. Semua ini membuat investor menarik napas panjang. Mereka enggan mengambil posisi besar di berbagai aset, memilih untuk menepi dulu, mengamati dari pinggir lapangan sambil menghitung risiko yang semakin tak terprediksi.
Artikel Terkait
RAAM Rencanakan Rights Issue 1,36 Miliar Saham untuk Ekspansi Bioskop
PT Adhi Kartiko Pratama Siap Bayar Denda Hutan Rp158,9 Miliar
BUMA Catat Rugi Bersih USD 116 Juta di Tengah Gangguan Operasional dan Cuaca Buruk
Wall Street Catat Kerugian Pekan Kelima Berturut-turut, Dipicu Ketegangan AS-Iran dan Harga Minyak Melonjak