Awal tahun ini, pasar obligasi negara berkembang sempat bergairah luar biasa. Rekor baru tercipta. Tapi sekarang? Hampir semua berhenti mendadak. Pemicunya adalah ketegangan di Timur Tengah yang memicu gejolak pasar dan mendorong biaya pinjaman melambung tinggi. Suasana yang tadinya panas mendadak jadi dingin.
Menurut para bankir dan investor yang kami hubungi, faktor geopolitik ini benar-benar membuat banyak negara terjebak dalam ketidakpastian. Mereka bilang, situasi ini dengan jelas memperlihatkan kerapuhan banyak ekonomi negara berkembang. Padahal, cuma sebulan yang lalu, surat utang mereka masih dibanjiri permintaan, meski tarif dan situasi geopolitik sudah mulai tak menentu.
Namun begitu, selalu ada pengecualian. Di bulan Maret ini, Angola muncul sebagai satu-satunya yang berani. Negara produsen minyak itu justru diuntungkan oleh lonjakan harga minyak mentah akibat konflik.
Victor Mourad, Co-Head Debt Financing di Citi, mengonfirmasi suasana hati pasar yang berubah drastis.
"Semua pembahasan pendanaan sebenarnya masih berlangsung," katanya kepada Reuters, Jumat lalu. "Tapi sekarang pendekatannya sangat hati-hati. Semua pihak memilih untuk menunggu dan lihat perkembangan dulu."
Sebelum situasi memanas, ritme penerbitan utang memang sangat cepat. Arab Saudi, Meksiko, Turki mereka semua ramai-ramai menerbitkan utang di Januari dan Februari. Kecepatannya luar biasa. Karena itulah, total penjualan utang di kuartal pertama tahun 2026 ini tetap saja mencetak rekor, meski aktivitas di Maret boleh dibilang minim. Pemerintah dan korporasi dari Eropa Tengah, Timur Tengah, sampai Afrika berhasil menghimpun dana fantastis, sekitar USD117,5 miliar. Angka itu bahkan masih belum termasuk penerbitan Angola pekan ini.
Di sisi lain, data dari Bank of America menunjukkan betapa suramnya suasana. Investor menarik dana besar-besaran: USD3,3 miliar dari obligasi negara berkembang dan lebih dari USD5 miliar dari obligasi korporasi berimbal hasil tinggi, semua hanya dalam pekan hingga 19 Maret. Penarikan terakhir itu adalah yang terbesar sejak guncangan tarif AS setahun yang lalu.
Efek perang terasa jelas pada spread kredit. Untuk negara seperti Mesir dan Turki, spread-nya melebar signifikan karena perekonomian mereka dianggap paling rentan terkena dampak. Bahkan Arab Saudi, raksasa minyak dunia, spread-nya juga ikut melebar. Mesir dan Turki sendiri sangat bergantung pada impor energi dan pangan, jadi kenaikan harga di dua sektor itu langsung jadi pukulan berat.
Indeks obligasi pasar berkembang JPMorgan (EMBI) menunjukkan tren yang sama. Spread antara utang dolar negara berkembang dan obligasi pemerintah AS melebar 17 basis poin sejak akhir Februari, jadi 268 basis poin. Mesir bertambah 44 basis poin, Turki melebar 36 basis poin.
Tapi lihat Angola. Justru sebaliknya. Spread-nya dalam periode sama malah menyempit 39 basis poin, menjadi 504 basis poin. Ini menunjukkan investor justru meminta premi risiko yang lebih kecil untuk meminjamkan uang ke negara Afrika Barat itu dibanding sebelum perang. Perusahaan telekomunikasi Afrika, Helios Towers, juga masih bisa menerbitkan utang pekan ini. Tapi bagi kebanyakan pihak lain, situasinya jauh lebih sulit.
Ketidakpastiannya memang besar. Konflik ini sudah melibatkan serangan-serangan dahsyat terhadap infrastruktur energi di negara Teluk, belum lagi penutupan Selat Hormuz yang vital bagi perdagangan minyak global. Semua ini membuat investor menarik napas panjang. Mereka enggan mengambil posisi besar di berbagai aset, memilih untuk menepi dulu, mengamati dari pinggir lapangan sambil menghitung risiko yang semakin tak terprediksi.
Artikel Terkait
Pemerintah Siapkan Perluasan B50, Produsen Filter Lokal Luncurkan Produk Khusus Atasi Tantangan Teknis Biodiesel
Wall Street Mendekati Rekor Tertinggi, Optimisme AI Redam Kekhawatiran Konflik Iran
BSI Maslahat dan MyFundAction Jalin Kerja Sama Optimalkan Distribusi Dana ZIS Berpotensi Rp300 Triliun per Tahun
Laporan Keuangan Gabungan Seluruh BUMN di Bawah Danantara Baru Rampung Akhir Kuartal III 2026