Budi merasa pencapaian ini bukanlah kebetulan. Ia menegaskan bahwa kinerja sepanjang 2025 membuktikan fundamental bisnis perseroan yang kian kuat.
"Pertumbuhan pendapatan yang konsisten serta lonjakan laba tahun berjalan mencerminkan keberhasilan kami dalam mengelola proyek secara selektif dan meningkatkan efisiensi operasional,” ujarnya.
Struktur pendapatannya sendiri masih didominasi oleh pengembangan real estat. Segmen ini menyumbang 54 persen atau setara Rp220,9 miliar, sesuai dengan fokus utama mereka sebagai pengembang properti.
Di sisi lain, ada hal menarik yang mulai terlihat. Kontribusi dari segmen perkantoran dan hospitality perlahan menunjukkan peran yang makin penting. Kedua segmen ini mulai memberikan pendapatan berulang yang lebih stabil, apalagi dengan pemulihan ekonomi dan mobilitas masyarakat yang semakin baik.
Lantas, bagaimana rencana mereka ke depan?
Memasuki 2026, Budi menyebut fokus utama tetap pada proyek-proyek yang punya daya serap pasar kuat. Mereka juga akan mempercepat monetisasi proyek yang sudah ada untuk mendukung arus kas.
Secara bersamaan, perseroan tak akan berhenti mendorong peningkatan pendapatan berulang, terutama dari hospitality dan aset komersial. Tujuannya jelas: untuk memperkuat stabilitas kinerja jangka panjang. Kombinasi strategi ini diharapkan bisa jadi fondasi yang kokoh untuk menjaga kesinambungan bisnis.
“Dengan landasan kinerja yang kuat di 2025, perseroan optimistis dapat melanjutkan momentum pertumbuhan pada tahun-tahun mendatang. Melalui strategi pengembangan proyek yang terukur serta diversifikasi portofolio sekaligus menjaga disiplin keuangan untuk memastikan keberlanjutan kinerja di tengah dinamika industri properti,” pungkas Budi.
(Dhera Arizona)
Artikel Terkait
Ekonom Perkirakan The Fed Pertahankan Suku Bunga Sampai September
Laba Bersih Amman Mineral Anjlok 60% di Tengah Masa Transisi Operasional
Laba Bersih Chandra Asri Melonjak 2.662% Jadi Rp 23,8 Triliun pada 2025
IHSG Berbalik Anjlok 1,21% di Sesi I, Sektor Energi dan Industri Tertekan