Pasar saham kita hari Rabu (25/3) tampak hijau, dengan IHSG naik 1,3% ke level 7.199. Tapi jangan salah, di balik kenaikan itu ada cerita lain. Sektor tambang, khususnya emas dan logam mulia, justru terpuruk. Seolah tak tersentuh sentimen positif, saham-saham ini malah terkapar, beberapa bahkan anjlok tajam.
Lihat saja data BEI hingga sesi pertama. EMAS (Merdeka Gold Resources) nyaris tumbang 10%, terperosok ke Rp 8.575. PSAB (J Resources) dan ARCI (Archi Indonesia) juga ikut terimbas, masing-masing melemah 4,72% dan 4,06%. Tekanan serupa terasa di ANTM, MDKA, dan HRTA yang catatannya memerah. Meski begitu, tak semua bersedih. AMMN dan BRMS justru meroket lebih dari 7%, menunjukkan bahwa ceritanya tak seragam.
Lalu, apa penyebabnya? Rupanya, ada faktor teknis yang berperan. Beberapa emiten emas, termasuk EMAS, ARCI, dan PSAB, baru saja mengalami rebalancing di indeks global MVIS Global Junior Gold Miners Index. Perubahan ini efektif sejak 20 Maret lalu.
“Rebalancing indeks seperti ini biasanya memicu aksi jual-beli oleh dana pasif yang mengikutinya,” kata seorang analis yang enggan disebut namanya. “Hasilnya? Volatilitas jangka pendek hampir selalu tak terhindarkan bagi saham-saham yang terdampak.”
Di sisi lain, ada juga kabar spesifik dari EMAS. Perusahaan ini sedang bersiap untuk melantai di Bursa Hong Kong. Langkah IPO ini ditujukan untuk menjaring investor internasional dan menggalang modal dari luar negeri, seiring dengan peningkatan produksi di tambang andalannya, Pani Gold Mine.
Dalam dokumen pengajuannya ke Bursa Hong Kong pada Jumat (20/3), seperti dilaporkan Reuters, EMAS menyebut bahwa pencatatan ganda ini akan meningkatkan profil korporasinya di mata investor global. UBS dan Citic Securities ditunjuk sebagai penjamin emisi untuk proses tersebut.
Ironisnya, sementara saham emas domestik jatuh, harga komoditas emas dunia justru mulai bangkit. Pada hari yang sama, harga emas global bertengger di atas USD 4.500 per ons. Ini adalah penguatan hari kedua berturut-turut, didorong oleh harapan meredanya ketegangan di Timur Tengah.
Isunya, Amerika Serikat dikabarkan membuka jalur negosiasi dengan Iran. Media Israel menyebut Washington mengupayakan gencatan senjata satu bulan, sementara The New York Times melaporkan AS telah mengirim proposal 15 poin untuk mengakhiri konflik. Optimisme ini muncul meski Presiden Donald Trump juga mengirim sekitar 2.000 pasukan tambahan ke kawasan itu sebagai antisipasi.
Padahal, sebelumnya emas sempat terpuruk. Harga pernah jatuh hingga 25% dari puncaknya karena konflik Iran memicu lonjakan harga energi. Kekhawatiran inflasi pun meroket, diikuti ekspektasi bahwa suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama. Gubernur The Fed, Michael Barr, bahkan menegaskan bank sentral mungkin perlu mempertahankan suku bunga tinggi untuk menjinakkan inflasi kabar buruk bagi emas.
Kembali ke pasar domestik, meski IHSG hari ini menguat pasca-libur panjang, performa sebulan terakhir tetap suram dengan koreksi mencapai 13%. Ketegangan geopolitik yang mendongkrak harga minyak global jadi salah satu biang keroknya. Tekanan juga datang dari sorotan lembaga rating internasional soal fiskal, plus isu investabilitas yang masih didiskusikan dengan MSCI. Hasil finalnya baru akan diketahui bulan Mei nanti.
Jadi, meski hijau hari ini, perjalanan pasar masih dipenuhi awan mendung. Investor tampaknya harus tetap waspada.
Artikel Terkait
Puradelta Lestari Targetkan Prapenjualan Rp2,08 Triliun di Tengah Transformasi Kota Deltamas
Harga Minyak Dunia Anjlok 14 Dolar dalam Sepekan, Citigroup Sebut Stok Global Tinggi dan Permintaan Melemah
SIG Genjot Ekspor ke Afrika dan Prancis untuk Atasi Kelebihan Pasokan Domestik
Bappenas: Kemacetan Jabodetabek Rugikan Ekonomi Rp100 Triliun per Tahun, SIG Hadirkan Beton Cepat Kering SpeedCrete