Harga minyak mentah dunia tercatat mengalami penurunan signifikan dari level tertingginya dalam beberapa pekan terakhir, meskipun ketegangan geopolitik di Selat Hormuz masih belum mereda. Analis dari Citigroup menilai bahwa kejatuhan harga ini didorong oleh tingginya persediaan global, melemahnya pertumbuhan permintaan, serta ekspektasi pasar terhadap kemungkinan penyelesaian konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Faktor-faktor tersebut dinilai telah meredam dampak gangguan pasokan yang sebelumnya menjadi kekhawatiran utama pelaku pasar.
Dalam sepekan terakhir, harga minyak mentah Brent sempat melonjak hingga menyentuh kisaran 125 hingga 126 dolar AS per barel. Namun, lonjakan tersebut tidak bertahan lama. Harga kemudian terkoreksi tajam dan kembali ke level 100 hingga 114 dolar AS per barel, tergantung pada bulan kontrak. Pergerakan ini terjadi setelah para pedagang mulai menilai ulang durasi risiko gangguan pasokan dan mencermati tanda-tanda pelemahan permintaan yang semakin nyata.
Menurut laporan dari Citigroup, penurunan harga sekitar 14 dolar AS dalam seminggu terakhir mencerminkan sejumlah faktor penstabil. Di antaranya adalah pelepasan cadangan minyak strategis oleh sejumlah negara, tingginya stok minyak global, serta konsumsi minyak yang lebih rendah di negara-negara berkembang. Bank investasi tersebut juga menyoroti penurunan tajam impor minyak mentah China, yang diperkirakan hanya mencapai sekitar 2,4 juta barel per hari pada April dan Mei. Angka ini jauh di bawah rata-rata impor tahun 2025 yang sebesar 11,6 juta barel per hari.
Citigroup menambahkan bahwa China berhasil mengatasi penurunan impor tersebut sebagian melalui pengurangan aktivitas penimbunan dan pengurangan ekspor produk olahan. Langkah ini dinilai telah mengurangi tekanan pada pasokan minyak global secara keseluruhan.
Di sisi lain, bank tersebut tetap mempertahankan pandangan bullish dalam jangka pendek. Citigroup masih mempertahankan perkiraan harga minyak mentah Brent dalam rentang 0 hingga 3 bulan di angka 120 dolar AS per barel. Untuk kuartal kedua, harga rata-rata diproyeksikan mencapai 110 dolar AS per barel, sebelum turun menjadi 95 dolar AS pada kuartal ketiga dan 80 dolar AS pada kuartal keempat.
Meskipun harga saat ini menunjukkan tren penurunan, Citigroup mengingatkan bahwa pasar mungkin masih meremehkan risiko gangguan pasokan yang berkepanjangan di Selat Hormuz. Jika negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran tetap menemui jalan buntu, potensi eskalasi konflik dapat kembali memicu gejolak harga dalam waktu dekat.
Artikel Terkait
SIG Genjot Ekspor ke Afrika dan Prancis untuk Atasi Kelebihan Pasokan Domestik
Bappenas: Kemacetan Jabodetabek Rugikan Ekonomi Rp100 Triliun per Tahun, SIG Hadirkan Beton Cepat Kering SpeedCrete
Proses Delisting MABA Terhambat, Saham Benny Tjokro yang Disita Kejagung Halangi Buyback
Happy Hapsoro Masuk Daftar Pemegang Saham PADI, Bantah Spekulasi Hengkang