Di sisi lain, pendapatan dari entitas asosiasi juga tak luput dari koreksi, turun 44 persen. Meski beban keuangan berhasil ditekan cukup baik sebesar 30 persen, dampaknya terhadap laba bersih tetap terasa.
Setelah semua disesuaikan, termasuk pajak dan penghasilan lain, laba bersih yang tersisa ya angka USD70,5 juta tadi.
Namun begitu, di balik laporan laba yang suram, kondisi keuangan ABMM sebenarnya masih terlihat solid. Posisi kas dan setara kas mereka justru tumbuh 17 persen secara tahunan, mencapai USD199 juta. Ini setidaknya menunjukkan kekuatan finansial yang masih mereka miliki.
Tapi, ada juga catatan yang perlu diperhatikan. Persediaan mereka menyusut cukup tajam, 33 persen, menjadi USD40 juta. Imbasnya, aset lancar turun 6 persen. Total aset perusahaan pun ikut berkurang 2 persen.
Di bagian liabilitas, utang jangka pendek turun 14 persen berkat berkurangnya utang usaha. Namun, utang bank jangka pendek justru melonjak tinggi, naik 22 persen. Sementara utang jangka panjang relatif stabil, hanya turun tipis.
Yang cukup menggembirakan, ekuitas ABMM justru tumbuh sekitar 4 persen. Saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya pun terpantau cukup sehat, mencapai USD691 juta. Jadi, meski tahun lalu berat, fondasinya belum goyah.
(Rahmat Fiansyah)
Artikel Terkait
Pendapatan Trimegah Sekuritas Melonjak 85% Jadi Rp1,68 Triliun pada 2025
BREN Pacu Kapasitas Panas Bumi, Targetkan Lampaui 1 GW pada 2026
CP Prima Catat Laba Bersih Rp424 Miliar, Naik 32% pada 2025
Laba Bersih INKP dan TKIM Berjalan Berbeda Meski Penjualan Sama-Sama Turun Tipis