Nah, soal percepatan produksi, Elnusa punya pendekatan menarik. Mereka menawarkan solusi operasi berbiaya rendah. Dengan cara ini, lapangan-lapangan yang sebelumnya dianggap tidak ekonomis punya peluang untuk dikembangkan dan menghasilkan.
Sementara untuk pekerjaan rutin, integrasi layanan menjadi andalan. Mereka mengoptimalkan layanan workover dan well intervention secara terpadu. Tujuannya jelas, menjaga agar produksi dari lapangan yang ada tetap berjalan lancar dan efisien.
Semua strategi ini ditopang portofolio bisnis Elnusa yang cukup beragam. Setidaknya ada tiga segmen utama: jasa hulu migas terintegrasi, penjualan barang plus distribusi-logistik energi, dan jasa penunjang migas. Sepanjang 2025, kinerja ketiganya terbilang solid.
Mereka mencatat pertumbuhan yang signifikan, khususnya di segmen distribusi. Volume angkutan BBM naik lebih dari 22% secara tahunan. Angka ini mencerminkan kebutuhan layanan transportasi energi yang terus membesar di berbagai wilayah. Cakupan layanan mereka pun makin luas, merambah ke pengelolaan depot, distribusi LPG, pelumas, hingga bahan kimia industri.
Tak berhenti di bisnis inti, Elnusa juga merambah ke sektor lain. Mereka mengembangkan jasa survei seismik untuk tambang batu bara. Bahkan, produk seperti Oil Country Tubular Goods (OCTG) mulai dikirim ke pasar internasional, contohnya ke Aljazair melalui kerja sama dengan mitra strategis.
Arief menambahkan, strategi ini terbukti dari perolehan kontrak perseroan sepanjang 2025 yang tetap kuat. Dinamika industri yang berlanjut hingga 2026 pun dihadapi dengan persiapan matang.
“Karena itu, Elnusa akan terus memperkuat kapabilitas teknologi, integrasi layanan, serta kolaborasi dengan mitra strategis untuk menangkap peluang pertumbuhan industri energi,” tutup Arief.
Jadi, langkah-langkah itu sudah dijalankan. Tinggal menunggu hasilnya di lapangan, apakah benar-benar bisa mendorong produksi mendekati target satu juta barel itu.
Artikel Terkait
Pertamina Geothermal Energy (PGEO) Bidik Bisnis Sewa Alat Tambang
Jalan Tol Bali Mandara Ditutup 32 Jam untuk Nyepi 2026
Investor Asing Masih Melirik Manufaktur Indonesia, Fokus Beralih ke Industri Bernilai Tinggi
PANI Suntik Modal ke Tiga Anak Usaha untuk Kembangkan PIK2