Peter Andersen, pendiri Andersen Capital Management, merasakan betul kehati-hatian ini di kalangan investor.
“Ada banyak kekhawatiran sekarang terkait seluruh data ekonomi karena sebagian investor melihat ini sebagai sinyal titik balik, terutama setelah angka ketenagakerjaan yang mengejutkan pekan lalu,” ujarnya.
Dia menambahkan, volatilitas harga minyak saat ini nyaris mengalahkan semua faktor lain.
“Harga minyak saat ini telah menutupi hampir semua data ekonomi standar yang biasanya menjadi acuan pasar karena volatilitasnya sangat tidak biasa,” katanya lagi.
Pada pukul 10.20 waktu New York, pergerakan indeks mencerminkan kebimbangan tadi. Dow Jones merosot 212,58 poin (0,45%) ke level 47.493,93. Sementara itu, S&P 500 justru naik tipis 7,05 poin (0,10%) ke 6.788,53. Nasdaq malah lebih perkasa, menguat 108,60 poin atau 0,48% menjadi 22.805,71.
Dari 11 sektor di S&P 500, tujuh di antaranya catat merah. Sektor consumer staples paling tertekan, anjlok 1,4%. Tapi, sektor energi justru melesat 1,2% didorong sentimen harga. Saham teknologi juga ikut terdongkrak, terutama setelah Oracle memproyeksikan lonjakan permintaan pusat data AI hingga tahun 2027. Pasar memang selalu punya cerita sendiri.
Artikel Terkait
Direktur Utama Dharma Polimetal Mundur Setelah 36 Tahun Bekerja
ADRO Siapkan Rp4 Triliun dari Kas Internal untuk Buyback Saham
ELPI Bagikan Dividen Rp126 Miliar untuk Tahun Buku 2025
DSSA Setujui Stock Split 1:25, Harga Saham Bakal Turun ke Rp3.750