Dalam skema ini, PEB akan memanfaatkan fasilitas yang dibangun untuk operasionalnya. Sebagai bagian dari kesepakatan, mereka juga berkomitmen mengalokasikan produksi batu baranya kepada RMKE. Untuk transportasi, batu bara dari tambang PEB rencananya akan diangkut menggunakan layanan kereta api yang dikelola bersama PT Kereta Api Indonesia (Persero). Harapannya, rantai pasok dari lokasi tambang hingga pelabuhan bisa berjalan lebih mulus dan efisien.
Direktur Utama RMKE, Vincent Saputra, menilai penambahan klien seperti ini sangat krusial.
"Ini diharapkan bisa mendukung target operasional kami tahun ini," ujarnya.
Target yang dimaksud cukup ambisius: volume pengangkutan batu bara mencapai 12,7 juta ton dan penjualan batu bara sebesar 3,6 juta ton sepanjang 2026.
Jadi, dengan tiga pilar utama penguatan infrastruktur, penambahan mitra tambang, dan integrasi logistik-perdagangan RMKE tampak serius mengejar pertumbuhan yang lebih kuat. Mereka berharap momentum di awal tahun ini bisa terus terjaga, bahkan meningkat, dalam beberapa bulan ke depan.
Artikel Terkait
Calon Komisioner OJK Targetkan Kapitalisasi BEI Rp25.000 Triliun pada 2031
Harga CPO Menguat Didorong Pelemahan Ringgit dan Sentimen Minyak Nabati
Petrindo Jaya Kreasi (CUAN) Akhiri Program Buyback Saham Lebih Cepat
IHSG Dibuka Menguat 0,59%, Mayoritas Sektor Catatkan Kenaikan