Andrew Cope, Regional Head of Asia Pacific Nokia, menyatakan kegembiraannya bisa berkolaborasi dengan Surge. "Keterlibatan industri sejak dini seperti ini punya peran penting. Ini membantu suatu negara dan seluruh pemangku kepentingan untuk bersiap menyambut era baru konektivitas dan infrastruktur digital yang cerdas," ujarnya.
Jadi, apa sebenarnya yang akan mereka teliti? Fokusnya cukup teknis, mencakup arsitektur nirkabel generasi berikutnya, strategi spektrum baru untuk fixed broadband, hingga konektivitas berkapasitas ultra-tinggi dengan latensi yang sangat rendah. Integrasi arsitektur jaringan cerdas juga masuk dalam daftar.
Meski standar globalnya belum ada, kolaborasi semacam ini memungkinkan kedua perusahaan untuk mengevaluasi model implementasi potensial. Mereka juga bisa mengidentifikasi peluang layanan digital baru jauh hari sebelumnya. Pada akhirnya, tujuan besarnya adalah memastikan Indonesia tetap aktif membentuk infrastruktur digital generasi mendatang sekaligus memperkuat daya saing teknologinya.
Ke depan, jaringan 6G digadang-gadang akan menjadi fondasi bagi era "physical AI". Bayangkan sebuah arsitektur hybrid AI yang mengintegrasikan kecerdasan cloud dengan mulus ke dalam komputasi tepi (edge computing) secara real-time. Itulah visi yang hendak diwujudkan, fondasi untuk sistem digital cerdas generasi berikutnya.
Kerja sama ini memang baru langkah awal. Namun, ia menandai sebuah ambisi. Ambisi untuk tidak hanya menjadi penonton, tapi pelaku dalam lompatan teknologi telekomunikasi berikutnya.
Artikel Terkait
Pasar Saham Asia Bangkit, Minyak Anjlok Usai Komentar Trump Soal Perang Timur Tengah
Rupiah Tertekan Global, Pelemahan Masih Lebih Moderat Dibanding Mata Uang Asia Lain
Menteri Keuangan Tegaskan Harga BBM Subsidi Belum Akan Dinaikkan
Analis Prediksi IHSG Lanjutkan Koreksi, Waspadai Level 7.140