Pasar saham Asia babak belur di awal pekan ini. Sentimen negatif menyapu lantai bursa dari Tokyo hingga Seoul, dipicu oleh satu hal: minyak yang meroket di atas US$100 per barel. Ini level yang belum terlihat dalam hampir empat tahun, dan efek guncangannya langsung terasa.
Di Jepang, indeks Nikkei 225 terperosok 7,43 persen. Sementara di Korea Selatan, situasinya lebih parah. Kospi ambruk 8,11 persen di sesi pagi, hingga memicu circuit breaker yang menghentikan perdagangan selama 20 menit. Ini sudah kedua kalinya mekanisme pengaman itu aktif bulan ini saja.
Bursa lain tak kalah merah. Hong Kong's Hang Seng terpangkas 3,1 persen, sementara pasar Australia dan Singapura juga ikut terpuruk. Rupanya, sentimen ketakutan investor menyebar cepat seiring naiknya harga komoditas energi itu.
Lonjakan harga minyak sendiri sungguh tajam. Minyak mentah acuan AS, WTI, melesat 17,4 persen ke US$106,80. Brent Crue juga menguat kuat, menyentuh level di atas US$107. Level terakhir kali kita melihat angka seperti ini adalah saat awal invasi Rusia ke Ukraina dulu.
Pemicu utamanya jelas: ketegangan di Timur Tengah yang makin memanas, dan kekhawatiran pasokan bakal terganggu. Selat Hormuz, jalur vital tempat 20% minyak dunia lewat, nyaris macet total sejak konflik pecah akhir Februari lalu. Kapal-kapal tanker enggan melintas.
Kondisi ini jadi mimpi buruk bagi negara seperti Jepang dan Korea Selatan. Jepang, importir minyak terbesar kelima dunia, bergantung hampir 95% pasokan minyaknya dari Timur Tengah. Sekitar 70% dari itu biasanya melalui Selat Hormuz.
Menanggapi hal ini, Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi berusaha menenangkan. Ia menyebut negara punya cadangan minyak darurat untuk 254 hari konsumsi dalam negeri.
“Pemerintah juga mempertimbangkan untuk melepas sebagian cadangan strategis guna menstabilkan pasokan,” tambahnya, seperti dilaporkan Kyodo News.
Di sisi lain, respons dari Gedung Putih justru terdengar lebih santai. Presiden AS Donald Trump seolah mengecilkan dampak lonjakan harga ini. Ia menyebutnya sebagai "biaya yang perlu dibayar" untuk menetralisir ancaman nuklir Iran.
Namun begitu, perkembangan politik di Teheran mungkin tak akan disukainya. Reuters melaporkan, Iran baru saja menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai penerus ayahnya, Ali Khamenei. Penunjukan ini mengisyaratkan kelompok garis keras masih berkuasa, dan Trump sebelumnya telah menyebut sang putra sebagai sosok yang “tidak dapat diterima”.
Dengan konflik yang belum ada ujungnya dan lalu lintas minyak yang tersendat, para investor sepertinya harus bersiap. Masa-masa dengan biaya energi tinggi mungkin akan berlangsung cukup lama.
“Ekonomi global masih sangat bergantung pada aliran terkonsentrasi minyak dan gas alam dari Timur Tengah yang melewati Selat Hormuz,” ujar Bruce Kasman, Kepala Ekonom JPMorgan.
Pernyataannya seperti mengingatkan kita semua: ketergantungan itu kini berbalik menghantui. Dan pasar saham menjadi yang pertama merasakan sakitnya.
Artikel Terkait
Reformasi Pasar Modal Indonesia Dinilai Bukan Sekadar Ikuti Tren, tapi Kebutuhan Struktural
Pertamina Geothermal Energi Bagikan Dividen Rp2,14 Triliun untuk Tahun Buku 2025
Wall Street Tertekan, Ketegangan AS-Iran dan Kekhawatiran AI Tekan Saham Teknologi
BELL Setujui Dividen Rp10 Miliar di Tengah Tekanan Industri Tekstil