Pekan lalu, harga emas dunia berakhir dengan kenaikan pada sesi Jumat (6/3). Pemicunya adalah data ketenagakerjaan AS yang ternyata lebih lemah dari perkiraan. Hal ini kembali meniupkan angin harapan bahwa The Fed mungkin akan memangkas suku bunga. Tapi, jangan salah. Secara keseluruhan, emas justru mencatatkan penurunan mingguan pertamanya dalam lima pekan terakhir. Penguatan dolar AS-lah yang disebut-sebut menahan laju kenaikan si logam kuning ini.
Pada penutupan Jumat, harga emas spot melonjak 1,77 persen ke level USD 5.171,06 per troy ons. Namun begitu, secara mingguan, posisinya masih terpangkas 2,06 persen. Lalu, ke mana arah emas selanjutnya?
Sentimen pasar tampaknya masih terbelah. Survei Emas Mingguan Kitco News mengungkapkan, para pelaku di Wall Street belum satu suara soal prospek jangka pendek emas. Di sisi lain, optimisme investor ritel justru kembali ke level rata-rata setelah harga melemah sepanjang pekan. Sepertinya, pelemahan itu malah dilihat sebagai kesempatan beli oleh sebagian orang.
James Stanley, analis senior pasar di Forex.com, termasuk yang masih optimis.
“Saya tetap mempertahankan bias bullish meskipun pekan ini cukup berat. Level dukungan USD 5.000 pada emas spot sejauh ini bertahan dengan baik, dan menurut saya ini bisa menjadi peluang nilai yang menarik menjelang pekan ini,” ujarnya.
Pandangan serupa datang dari Darin Newsom, analis pasar senior di Barchart.com. Ia dengan tegas menyebut "Naik."
“Akan ada aksi jual, seperti yang baru-baru ini terjadi, bahkan dalam skala yang sangat luas. Namun, hal itu tidak mengubah fakta bahwa pasar masih berada dalam tren naik jangka panjang,” tutur Newsom.
Namun begitu, tidak semua mulus. Adrian Day dari Adrian Day Asset Management mengingatkan bahwa pasar masih sedang mencerna dampak dari perang Iran. Meski demikian, ia yakin pendorong jangka panjang yang sebelumnya mendongkrak emas menembus USD 5.000 akan kembali mendominasi dalam waktu dekat.
Survei tersebut melibatkan 18 analis. Hasilnya? Setelah momentum melemah, hanya separuh dari responden Wall Street yang masih berpandangan bullish. Rinciannya, sembilan analis (50%) memperkirakan kenaikan minggu ini. Empat analis (22%) memprediksi penurunan, sementara lima sisanya (28%) menilai pasar akan bergerak sideways atau konsolidasi.
Bagaimana dengan investor kecil? Jajak pendapat daring Kitco News mencatat 340 suara dari investor ritel. Sentimen mereka kembali ke kisaran rendah 62 persen, level yang bertahan sejak aksi jual besar-besaran awal Februari lalu. Dari jumlah itu, 211 trader (62%) yakin harga akan naik. Sebanyak 56 responden (16%) memprediksi pelemahan, dan 73 investor lainnya (22%) memperkirakan harga cenderung datar.
Nah, pekan ini pergerakan emas akan sangat dipantau seiring dengan ramainya kalender data ekonomi AS. Sejumlah indikator kunci terkait inflasi dan pertumbuhan akan dirilis, memberikan gambaran lebih dalam tentang sektor perumahan dan kondisi konsumen.
Selasa pagi nanti, data penjualan rumah eksisting untuk Februari akan keluar. Lalu, Rabu menjadi hari yang ditunggu dengan rilisnya laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) untuk bulan yang sama. Kamis, perhatian beralih ke data klaim pengangguran mingguan serta laporan housing starts dan izin bangunan untuk Januari.
Puncaknya pada Jumat pagi. Sejumlah data penting bakal membanjiri pasar: pesanan barang tahan lama, estimasi awal PDB kuartal IV, Core PCE, dan data lowongan kerja JOLTS semuanya untuk periode Januari. Tak ketinggalan, survei awal sentimen konsumen Maret dari University of Michigan juga akan dipublikasikan. Pekan yang cukup sibuk, bukan?
Artikel Terkait
Hutama Karya Raup Laba Rp464 Miliar di Kuartal I-2026, Tembus 172 Persen Target
PT Sinar Terang Mandiri Tbk Bagikan Dividen Rp60,23 Miliar, Setara Rp14,75 per Saham
Indonet Tunjuk Donauly Elena Situmorang sebagai Direktur Utama, Gantikan Andrew Rigoli
IHSG Anjlok 6,6% dalam Sepekan, Saham Logistik Baru IPO Justru Melonjak 94%