Lalu bagaimana dengan telekomunikasi? Sektor ini sebenarnya sedang memasuki fase yang lebih sehat. Perang tarif yang menyiksa itu mulai mereda. Di sisi lain, kebutuhan akan konektivitas data malah makin menjadi. Digitalisasi di rumah dan kantor terus berjalan, ditambah lagi ledakan adopsi AI yang tentu saja menyedot data sangat besar.
Meski prospeknya cerah, harga saham operator broadband justru terkapar. EXCL dan WIFI, contohnya, sudah merosot 35-50 persen. Sekarang, keduanya diperdagangkan dengan diskon fantastis, sekitar 60-70 persen di bawah nilai intrinsik perkiraan.
Kita beralih ke sektor konsumsi. Di sini ada secercah harapan, terutama untuk segmen masyarakat berpenghasilan rendah. Dorongan fiskal pemerintah mulai terasa. Ini sinyal penting, mengingat sektor ini sempat lama tertekan daya beli.
Jika prediksi pertumbuhan ekonomi di atas 6 persen terwujud, daya beli rumah tangga lambat laun akan membaik. Imbasnya, pertumbuhan pendapatan perusahaan-perusahaan consumer goods berpotensi kembali melesat ke level dua digit.
Sucor Sekuritas punya beberapa andalan. MYOR, misalnya, disebut punya potensi kenaikan sekitar 35 persen. Sementara INDF bisa naik lebih tinggi lagi, hingga 45 persen.
Tentu saja, semua analisis dan proyeksi ini bukanlah jaminan. Keputusan untuk membeli atau menjual saham sepenuhnya ada di tangan Anda, para investor. Lakukan riset mandiri dan pertimbangkan dengan matang.
Artikel Terkait
Pupuk Indonesia Niaga dan Semen Baturaja Jalin Kerja Sama Perdagangan Clay
Wall Street Turun Lagi, Tertekan Isyarat Eskalasi Ketegangan Timur Tengah
OJK Wajibkan Dana IPO Ditampung dalam Rekening Khusus
Pemerintah Tegaskan Belum Ubah APBN Meski Harga Minyak Sempat Melonjak