Harga emas bangkit lagi di tengah ketegangan global. Rabu (4/3/2026) lalu, logam kuning itu rebound cukup signifikan, mencatat kenaikan lebih dari 1 persen ke level USD 5.140,94 per troy ons. Ini jadi pemulihan yang disambut baik, mengingat sehari sebelumnya harganya sempat ambles lebih dari 4 persen.
Pemicunya? Seperti biasa, sentimen pasar digerakkan oleh dua hal utama. Di satu sisi, konflik di Timur Tengah yang kian panas memicu gelombang pelarian ke aset-aset safe haven. Di sisi lain, dolar AS yang sempat melonjak akhirnya jeda, memberikan ruang napas untuk emas.
Pelemahan dolar itu sendiri punya efek langsung. Logam yang berdenominasi greenback otomatis jadi lebih terjangkau bagi investor yang memegang mata uang lain. Situasi ini dimanfaatkan banyak pihak untuk masuk kembali.
Menurut Peter Grant, Wakil Presiden dan Analis Senior Logam di Zaner Metals, koreksi dolar memberi dukungan nyata.
"Faktor fundamental makro sebenarnya masih cukup solid untuk emas," katanya, seperti dikutip Reuters. "Selama perang dengan Iran masih berlangsung, itu akan tetap menjadi penopang."
Grant juga tak menampik bahwa volatilitas masih mengintai. Meski begitu, nada bicaranya tetap optimis. "Ada risiko gejolak berlanjut. Tapi saya tetap bullish dan melihat peluang tercapainya rekor tertinggi baru sepanjang masa," tambahnya.
Artikel Terkait
IHSG Melonjak 2,14% di Awal Perdagangan, Seluruh Sektor Berbalik Hijau
Reli Saham Asia Dipicu Sinyal Redupnya Ketegangan AS-Iran
Pemerintah Pastikan Stok Pangan dan Energi Aman Menjelang Lebaran 2026
IHSG Anjlok 4,57% Didorong Outlook Negatif Fitch dan Gejolak Timur Tengah