Pemakaman Khamenei Ditunda, Iran di Bawah Gempuran Serangan Udara AS-Israel

- Kamis, 05 Maret 2026 | 10:00 WIB
Pemakaman Khamenei Ditunda, Iran di Bawah Gempuran Serangan Udara AS-Israel

TVRINews – Teheran

Prosesi terpaksa ditunda. Langit di atas Iran masih bergemuruh oleh serangan udara AS dan Israel yang tak henti-hentinya.

Rencana pemakaman Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, yang seharusnya digelar Rabu malam, batal. Pemerintah Iran secara resmi mengumumkan penundaannya. Situasinya memang genting. Serangan udara gabungan Amerika dan Israel makin menjadi-jadi, menciptakan kondisi yang jelas tidak memungkinkan untuk menggelar acara besar.

Keputusan ini datang dari Seyyed Mohsen Mahmoudi, seorang pejabat di Dewan Koordinasi Propaganda Islam Teheran. Dia bilang pada kantor berita Tasnim bahwa acara di kompleks Grand Mosalla akan diatur ulang. “Kita tunggu waktu yang lebih tepat,” katanya.

Alasan resminya? Antusiasme publik yang luar biasa dan kebutuhan untuk menyiapkan infrastruktur yang mampu menampung membludaknya massa. Tapi, siapa pun bisa menebak, alasan keamanan di tengah gempuran bom pastilah jadi pertimbangan utama.

Transisi Kekuasaan di Bawah Ancaman

Sementara prosesi ditunda, roda politik harus terus berputar. Majelis Ahli Iran mengklaim mereka hampir selesai memilih pengganti Khamenei. Sang pemimpin dilaporkan tewas dalam serangan pertama pada Sabtu lalu, tepat di kediamannya sendiri.

“Kami sudah mendekati kesimpulan,” ujar Ayatollah Ahmad Khatami, anggota majelis, lewat siaran televisi pemerintah. Namun begitu, dia mengakui hambatannya. “Situasi negara saat ini dalam kondisi perang.”

Di balik layar, desas-desus kuat menyebut nama Mojtaba Khamenei. Putra mendiang yang berusia 56 tahun itu disebut-sebut sebagai kandidat utama. Dia bukan figur asing; pengaruhnya di kalangan Garda Revolusi Islam sudah dikenal luas.

Medan Pertempuran yang Meluas

Konflik ternyata tak cuma di darat dan udara. Laut pun jadi ajang pertempuran. Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, dengan blak-blakan mengonfirmasi sebuah aksi mematikan: kapal selam AS telah menenggelamkan fregat Iran, Iris Dena, di Samudra Hindia.

“Kapal perang itu mengira mereka aman. Mereka salah. Kematian yang sunyi,” tegas Hegseth pada para wartawan.

Akibatnya tragis. Menurut laporan dari Sekretaris Pertahanan Sri Lanka, 80 mayat berhasil ditemukan. Hanya 32 orang yang selamat.

Hegseth bahkan menyatakan koalisi pimpinannya akan menguasai langit Iran sepenuhnya dalam hitungan hari. Pernyataan bombastis ini langsung dibalas keras oleh pejabat Iran, Ali Larijani. Dia menuding Presiden Donald Trump telah “menyeret rakyat Amerika ke dalam perang yang tidak adil.”

Korban Berjatuhan dan Kemarahan Tetangga

Dampak kemanusiaannya kian nyata dan menyebar. Serangan balasan Iran yang menggunakan drone dan rudal mencapai negara-negara Teluk. Di Kuwait, sebuah tragedi kecil terjadi: seorang gadis 11 tahun tewas karena serpihan rudal yang jatuh di permukiman.

Di sisi lain, Qatar gerah. Mereka membantah keras klaim Iran bahwa serangan mereka hanya menarget aset Amerika. Perdana Menteri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, memperingatkan bahwa tindakan semacam ini berisiko menyeret negara-negara regional ke dalam konflik yang bukan urusan mereka.

Angka korban terus bergulir. Data resmi dari kantor berita pemerintah Iran, Irna, menyebut 1.045 orang tewas, gabungan militer dan sipil. Namun, lembaga HRNA yang berbasis di AS melaporkan angka yang lebih mengerikan, khususnya untuk warga sipil: 1.097 jiwa, dan di dalamnya termasuk 181 anak-anak.

Nyawa yang melayang, dalam setiap hitungannya.


Penulis: Fityan | Editor: Redaksi TVRINews

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar