Pasar saham kita hari Rabu kemarin benar-benar berdarah. IHSG ambruk tajam, mencatat penurunan yang cukup dalam di tengah badai sentimen yang datang dari berbagai arah. Kombinasi antara eskalasi di Timur Tengah dan kabar dari lembaga pemeringkat Fitch soal outlook Indonesia yang dipangkas jadi negatif, bikin investor langsung panik. Aksi jual pun membanjiri lantai bursa.
Menurut data BEI, indeks akhirnya ditutup anjlok 4,57 persen ke level 7.577,06. Padahal, di tengah sesi perdagangan, pelemahannya pernah nyentuh angka 5,71 persen. Transaksi hari itu cukup ramai, dengan nilai mencapai Rp29,64 triliun dan volume saham yang diperdagangkan tembus 50,39 miliar lembar. Kerusakannya luas: 767 saham melemah, cuma 61 yang mampu menguat, sementara 130 lainnya stagnan. Ini sudah hari ketiga berturut-turut IHSG terpuruk, dengan akumulasi kerugian mingguan yang hampir menyentuh 9 persen.
Keputusan Fitch untuk mengubah outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif jelas jadi pukulan telak. Dalam rilisnya, mereka bilang langkah ini mencerminkan ketidakpastian kebijakan yang meningkat. Ada kekhawatiran soal konsistensi bauran kebijakan yang dinilai tergerus, terutama di tengah sentralisasi pengambilan keputusan yang terjadi belakangan ini.
Fitch menilai kondisi ini bisa melemahkan prospek fiskal kita untuk jangka menengah, menekan sentimen investor, dan mengurangi ketahanan eksternal Indonesia.
Meski begitu, mereka masih menegaskan peringkat BBB untuk Indonesia. Peringkat itu mengakui rekam jejak kita dalam menjaga stabilitas makro, prospek pertumbuhan yang relatif oke, rasio utang pemerintah yang masih moderat, dan bantalan eksternal yang dianggap cukup. Tapi, semua kekuatan itu masih dibayangi beberapa kelemahan mendasar. Seperti rasio penerimaan negara yang rendah, beban bunga utang yang tinggi, dan indikator tata kelola yang tertinggal dibanding negara-negara lain yang setara.
Lalu, apa yang harus dilakukan investor di tengah kepanikan seperti ini?
BRI Danareksa Sekuritas mengeluarkan riset khusus. Mereka mengakui, penurunan IHSG yang tembus 5 persen memang kerap memicu kepanikan massal. Namun begitu, dalam dinamika pasar modal, fase koreksi tajam seperti ini sebenarnya adalah bagian dari siklus yang wajar dan hampir tak terhindarkan.
Yang penting, kata mereka, fokus investor seharusnya bukan sibuk menebak-nebak di mana titik terendah pasar. Tapi lebih pada memastikan strategi investasi tetap terkontrol dan risiko dikelola dengan disiplin ketat.
Bagi yang sudah pegang saham, pendekatannya harus lebih selektif. Untuk saham-saham big cap dengan fundamental kuat, disarankan untuk menahan posisi. Jangan buru-buru melakukan average down.
Artikel Terkait
Reli Saham Asia Dipicu Sinyal Redupnya Ketegangan AS-Iran
Pemerintah Pastikan Stok Pangan dan Energi Aman Menjelang Lebaran 2026
Harga Emas Bangkit Lebih dari 1% Didorong Ketegangan Timur Tengah dan Pelemahan Dolar
BEI Cabut Pencatatan 13 Waran Terstruktur Mulai 16 Maret 2026