Dampaknya langsung terlihat di sektor-sektor tertentu. Saham perusahaan pariwisata yang sensitif sama harga minyak geraknya beragam. American Airlines naik 1,2%, sementara Norwegian Cruise cuma diam di tempat. Carnival dan Delta malah tercatat turun. Pergerakan yang nggak seragam ini menunjukkan betapa ragunya pasar.
Yang jelas-jelas tertekan adalah sektor energi. Produsen minyak dan gas seperti ConocoPhillips dan Cheniere Energy anjlok, masing-masing 2,8% dan 1,5%. Sektor Energi di S&P 500 pun ikut terpuruk 1,8%, menjadi yang terburuk performanya hari itu. Wajar sih, mengingat beberapa negara di kawasan itu sudah menghentikan sementara produksinya, dan AS disebut sedang mempertimbangkan perluasan kampanye militernya.
Nah, bagaimana dengan angka pastinya? Pada pukul 09:56 pagi waktu setempat, pergerakan indeks utama terlihat seperti ini: Dow Jones sedikit melemah 0,07% ke level 48.467,74. S&P 500 naik tipis 0,12% ke 6.825,22. Sementara Nasdaq Composite justru melesat cukup signifikan, naik 0,58% ke 22.646,75.
Di balik semua ini, ada pergeseran ekspektasi yang menarik. Investor sekarang memprediksi penurunan suku bunga bakal mundur dari Juli ke September. Kenapa? Ancaman biaya energi yang melonjak dan tarif AS yang bisa memicu inflasi lagi jadi pertimbangan serius. Mereka jadi lebih hati-hati.
Secara keseluruhan, catatan minggu ini menunjukkan dinamika yang ekstrem. S&P 500 saja mencatat enam rekor tertinggi baru, tapi juga dua rekor terendah baru dalam 52 minggu. Nasdaq lebih dramatis lagi: 34 kali cetak rekor tertinggi, dibarengi 44 kali rekor terendah. Pasar memang lagi nggak stabil, dan semua orang coba membaca arah angin yang berubah-ubah ini.
Artikel Terkait
Saham AS Beragam di Tengah Ketegangan Timur Tengah dan Upaya Diplomasi Iran
Wall Street Bergoyang di Tengah Ketegangan Iran dan Sinyal Diplomatik Samar
Saham AS Bergejolak Imbas Ketegangan Iran dan Janji Stabilisasi Energi
Kontak Rahasia Iran-AS dan Janji Trump Pengaruhi Pasar Saham