Menurutnya, reaksi pasar sejauh ini masih terbilang terukur. Namun begitu, semua mata akan terus mengawasi perkembangan di lapangan.
Pemicu gejolak ini berawal dari pernyataan militer Israel yang mengklaim telah menewaskan Khamenei. Media pemerintah Iran kemudian mengonfirmasi kematian pemimpin berusia 86 tahun itu. Kabar ini langsung memicu kekhawatiran akan persaingan suksesi yang berisiko tinggi di Teheran.
Serangan pun berlanjut hingga Minggu. Iran membalas. Garda Revolusi Iran menyatakan telah menyerang tiga kapal tanker minyak milik AS dan Inggris. Bahkan, menurut sejumlah laporan, ledakan juga terdengar di langit Dubai dan Doha.
Dengan kondisi seperti itu, wajar kalau harga minyak jadi pusat perhatian. Harganya melambung sekitar 9 persen di awal perdagangan Senin, imbas dari gangguan pada rute perdagangan laut yang vital.
Menariknya, mata uang negara pengekspor energi seperti dolar Kanada dan krone Norwegia justru relatif stabil di sesi Asia. Kontras dengan dolar Australia yang sensitif risiko anjlok 0,7 persen ke USD0,7065.
Para trader memperkirakan, tekanan yang lebih berkelanjutan justru akan lebih terasa di negara-negara pengimpor energi. Mereka yang paling akan merasakan dampak kenaikan harga minyak ini ke depannya.
Artikel Terkait
BEI Jatuhkan Lebih dari 3.000 Sanksi Sepanjang 2025, Mayoritas Keterlambatan Laporan
Impor Indonesia Tembus US$21,2 Miliar di Januari 2026, Naik 18,21 Persen
Harga Emas Pegadaian Melonjak Rp38-44 Ribu per Gram Imbas Ketegangan AS-Israel-Iran
IHSG Terperosok ke Zona Merah Imbas Eskalasi Konflik Timur Tengah