Pelaku pasar pun tampaknya masih menunggu. Mereka mengamati dua hal: kejelasan rencana tarif AS yang berlarut-larut dan hasil perundingan antara Washington dan Teheran.
Nah, soal Iran dan AS ini, keduanya dijadwalkan menggelar putaran ketiga perundingan nuklir pada Kamis di Jenewa. Jadwal ini muncul di tengah kekhawatiran yang makin menjadi-jadi soal risiko konflik militer antara kedua negara yang sudah lama bermusuhan itu.
"Permintaan aset safe haven masih solid," jelas Wyckoff lagi. Ia melihat ketegangan Iran-AS dan ketidakpastian tarif membatasi tekanan jual emas, sehingga fundamental tetap suportif. "Tapi, ketika harga mendekati rekor tertinggi, akan muncul area resistance kuat. Untuk menembus level baru, kemungkinan dibutuhkan katalis geopolitik yang segar," tambahnya.
Memang, sebagai aset lindung nilai tradisional, emas selalu diuntungkan dalam periode ketidakpastian. Baik itu ketidakpastian geopolitik seperti sekarang, maupun gejolak ekonomi.
Di sisi lain, dari dalam negeri AS sendiri ada sinyal lain. Raphael Bostic, Presiden Federal Reserve Atlanta yang akan lengser, memberi pernyataan menarik. Ia mengatakan kepada Reuters bahwa AS mungkin memasuki fase pengangguran yang secara struktural lebih tinggi. Penyebabnya? Perusahaan-perusahaan mulai mengadopsi kecerdasan buatan untuk memangkas tenaga kerja.
Pergeseran struktural semacam ini, kata Bostic, akan sulit diimbangi oleh The Fed hanya dengan memainkan kunci suku bunga. Sebuah peringatan yang turut menambah nuansa ketidakpastian di pasar.
Artikel Terkait
Petrosea Akuisisi Mayoritas Saham Perusahaan Jasa Pelabuhan Vista Maritim Asia
Samindo Resources Pacu Target Overburden Removal ke 34,5 Juta BCM pada 2026
InJourney Airports Borong 32 Penghargaan Kepuasan Penumpang ACI 2025
Nikkei Jepang dan KOSPI Korea Cetak Rekor Tertinggi, Didorong Euforia Teknologi AI