Gelombang penurunan ini nyaris merata. Nvidia, sang juara chip AI, kehilangan hampir USD90 miliar. Apple tercatat turun fantastis, USD256,44 miliar menguap. Alphabet, induk Google, juga tak luput, dengan penyusutan nilai pasar sekitar USD88 miliar.
Menurut sejumlah analis, apa yang terjadi sejak awal 2026 ini bukan sekadar koreksi biasa. Ini adalah pergeseran psikologi pasar yang signifikan. Investor mulai lelah dengan cerita ambisi jangka panjang. Mereka kini lebih memilih visibilitas laba yang jelas dan bisa diraih dalam waktu dekat. Antusiasme spekulatif terhadap AI perlahan digantikan oleh sikap hati-hati.
Namun begitu, tidak semua perusahaan terpuruk. Di tengah kemerosotan Big Tech, justru ada nama-nama lain yang bersinar. TSMC dan Samsung Electronics, misalnya, malah mencatatkan kenaikan nilai pasar yang luar biasa, masing-masing bertambah hampir USD300 miliar dan USD270 miliar. Retailer raksasa Walmart juga ikut naik, menambah sekitar USD180 miliar.
Perbedaan nasib yang mencolok ini menunjukkan satu hal: uang tidak hilang, ia hanya berpindah tempat. Dari sektor teknologi yang dianggap terlalu panas dan penuh ketidakpastian, dana mengalir ke perusahaan dengan fundamental yang dianggap lebih solid dan prospek keuntungan yang lebih terlihat nyata. Lanskap pasar global, tampaknya, sedang mengalami reset.
Artikel Terkait
Pemprov DKI Potong BPHTB 50% untuk Pembeli Rumah Pertama di Bawah Rp500 Juta
Laba Bersih Trisula International Melonjak 33% pada 2025 Didorong Ekspor
BSA Logistics Targetkan Rp302 Miliar dari IPO, Mayoritas untuk Akuisisi Perusahaan Afiliasi
WIKA Pangkas Utang Rp3,87 Triliun Meski Rugi Bersih Membengkak