MURIANETWORK.COM - Harga minyak dunia mencatat penguatan tipis pada penutupan perdagangan Jumat (14 Februari 2026), disokong oleh data inflasi Amerika Serikat yang lebih lunak dari perkiraan. Kenaikan kecil ini terjadi di tengah sentimen pasar yang beragam, antara harapan akan penurunan suku bunga dan kekhawatiran akan penambahan pasokan dari OPEC , serta ketegangan geopolitik yang terus mendominasi lanskap energi global.
Performa Minyak Akhir Pekan
Pada sesi Jumat, minyak mentah acuan Brent berhasil menguat 0,3 persen, mengakhiri perdagangan di level USD67,75 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) AS naik tipis 5 sen atau 0,08 persen menjadi USD62,89 per barel. Meski menguat di akhir pekan, kedua patokan ini tetap mencatatkan penurunan secara mingguan. Brent melemah sekitar 0,5 persen, sedangkan WTI turun lebih dalam, yakni 1 persen dalam lima hari perdagangan.
Inflasi AS dan Sinyal Kebijakan Moneter
Penguatan harga tersebut tidak lepas dari rilis data inflasi AS untuk Januari yang menunjukkan kenaikan lebih rendah dari proyeksi analis. Perlambatan ini terutama didorong oleh turunnya harga bensin dan moderasi inflasi sewa. Data ini dianggap dapat memberi ruang bagi bank sentral AS untuk mempertimbangkan penurunan suku bunga di masa mendatang, sebuah langkah yang biasanya mendorong aktivitas ekonomi dan permintaan energi.
Dennis Kissler, Senior Vice President of Trading di BOK Financial, memberikan analisisnya. "Sepertinya inflasi mulai stabil. Jadi saya pikir itu akan menjadi kabar baik bagi suku bunga untuk kemungkinan terus bergerak sedikit lebih rendah. Dan ketika suku bunga mulai turun, itu positif bagi perekonomian," ungkapnya.
Namun, Kissler juga mengingatkan adanya faktor penekan dari sisi pasokan. "Hal negatifnya adalah OPEC mungkin akan menambah produksi sedikit lebih lanjut," tambahnya.
Artikel Terkait
Harga Minyak Dunia Melemah Didorong Rumor Perdamaian di Timur Tengah
Konflik Timur Tengah Pacu Harga Batu Bara, Saham Emiten di BEI Menguat
Analis MNC Sekuritas: IHSG Masih Rawan Koreksi ke Area 6.745
Impack Pratama Catat Kinerja 2025 Lebih Baik dari Target, Waspadai Tantangan 2026