Dinamika Pasokan dan Geopolitik
Faktor pasokan memang menjadi perhatian utama. Di awal sesi Jumat, harga sempat tertekan oleh laporan yang menyebutkan OPEC cenderung akan melanjutkan kenaikan produksi minyak mulai April, menyongsong puncak permintaan musim panas. Dari dalam negeri AS sendiri, data Baker Hughes menunjukkan jumlah rig pengeboran minyak turun tiga unit menjadi 409, mengisyaratkan perlambatan aktivitas eksplorasi.
Di luar faktor fundamental, ketegangan geopolitik terus menjadi premi tersendiri dalam harga minyak. Awal pekan, harga sempat terdongkrak oleh kekhawatiran eskalasi konflik AS-Iran. Sentimen itu kemudian mereda setelah pernyataan dari Presiden AS Donald Trump mengenai kemungkinan kesepakatan dengan Tehran. Namun, langkah Pentagon yang memindahkan kapal induk ke Timur Tengah kembali mengingatkan pasar pada kerawanan kawasan produsen energi utama tersebut.
Selain Timur Tengah, perkembangan dari Rusia dan Venezuela juga diamati. Rusia menyatakan putaran perundingan damai terkait Ukraina akan digelar pekan depan. Sementara itu, AS melonggarkan sebagian sanksi di sektor energi Venezuela, membuka peluang bagi perusahaan global untuk kembali beroperasi dan berinvestasi di negara anggota OPEC itu.
Prospek dan Sentimen Pasar
Menurut Dennis Kissler, negosiasi dengan Iran dan Rusia akan menjadi penggerak pasar dalam waktu dekat. Ia memperkirakan, pasokan minyak global jangka pendek masih melimpah dan kontrak berjangka minyak saat ini kemungkinan telah memasukkan premi geopolitik sekitar USD5 hingga USD7 per barel.
Di sisi lain, data dari regulator berjangka komoditas AS (CFTC) menunjukkan peningkatan posisi net long oleh manajer investasi pada minyak mentah AS dalam pekan yang berakhir 10 Februari. Ini mengindikasikan bahwa meski fluktuatif, masih ada keyakinan di kalangan pelaku pasar terhadap tren harga minyak ke depan, di tengah ramainya berita yang saling tarik-menarik antara optimisme ekonomi dan ketidakpastian geopolitik.
Artikel Terkait
Analis MNC Sekuritas: IHSG Masih Rawan Koreksi ke Area 6.745
Impack Pratama Catat Kinerja 2025 Lebih Baik dari Target, Waspadai Tantangan 2026
Wall Street Menguat Didorong Sinyal Damai Trump untuk Konflik Iran
Fore Kopi Indonesia Catat Laba Bersih Rp90 Miliar, Naik 55% pada 2025