Sementara mayoritas kawasan berwarna merah, bursa Korea Selatan justru mencatatkan performa positif. Indeks KOSPI menguat 0,48 persen, melanjutkan penguatan di dekat level rekor. Kinerja solid dari raksasa semikonduktor dan tanda-tanda pemulihan ekonomi domestik menjadi penopang utama.
Kementerian Ekonomi dan Keuangan Korea Selatan mengonfirmasi bahwa perbaikan permintaan dalam negeri, ditambah dengan ekspor yang tangguh yang dipimpin semikonduktor, telah menjaga momentum pemulihan ekonomi selama lima bulan berturut-turut.
Dampak dari Wall Street dan Data Ekonomi AS
Koreksi di Asia tak lepas dari sentimen negatif yang dibawa dari Wall Street. Indeks-indeks utama di Amerika Serikat, termasuk Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq, semuanya merosot lebih dari 1 persen pada perdagangan Kamis waktu setempat. Investor tampak mengambil langkah hati-hati menjelang rilis data inflasi kunci AS.
Laporan ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan di pekan ini telah mengikis ekspektasi pemotongan suku bunga agresif oleh Federal Reserve (The Fed). Hal ini memicu penilaian ulang terhadap prospek pasar.
Jay Hatfield, CEO dan CIO Infrastructure Capital Advisors di New York, memberikan pandangannya mengenai dinamika ini.
"Argumen bullish bahwa The Fed akan memangkas suku bunga pada dasarnya bertumpu pada gambaran ketenagakerjaan yang lemah, sehingga argumen itu kini tertantang," ujarnya.
Dengan data inflasi (CPI) yang akan dirilis pada Jumat sebagai titik perhatian berikutnya, pasar global tampaknya masih akan diliputi kehati-hatian dalam beberapa sesi perdagangan ke depan.
Artikel Terkait
Dokumen Internal Sebut Harga BBM Non-Subsidi Pertamina Bakal Naik Signifikan Awal April
PT DCI Indonesia Catat Laba Bersih Rp1 Triliun pada 2025 Didukung Ekspansi Data Center
Dokumen Rahasia Sebut Harga BBM Non-Subsidi Pertamina Bakal Naik Signifikan
Rupiah Melemah ke Rp17.002, Dihantui Ketegangan Iran dan Prospek Kenaikan Suku Bunga AS