Dampak Ganda: Ketahanan Energi dan Lingkungan
Keberadaan pabrik ini diproyeksikan membawa dampak ganda yang strategis. Di satu sisi, produksi bioetanol dalam negeri diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar minyak (BBM). Di sisi lain, penggunaan bahan bakar yang lebih bersih ini akan berkontribusi pada upaya penurunan emisi karbon.
Agung Wicaksono memaparkan perhitungan rinci dampak tersebut. “Ini akan menekan impor BBM dan menekan emisi karbon. Melalui substitusi impor BBM senilai USD13,9 juta akan dicapai ketahanan energi dan melalui pengurangan emisi karbon senilai 66 ribu ton CO2 ekuivalen akan dicapai keberlanjutan lingkungan,” ungkapnya.
Integrasi dengan Rantai Pasok Bahan Bakar Nasional
Bioetanol yang diproduksi di Banyuwangi nantinya tidak akan langsung digunakan. Produk tersebut akan dikirim ke terminal BBM milik Pertamina untuk melalui proses pencampuran (blending) dengan bahan bakar fosil, sebelum akhirnya didistribusikan ke masyarakat melalui jaringan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di seluruh Indonesia. Langkah ini merupakan bagian dari transisi energi yang bertahap.
“Melalui pabrik ini nantinya akan diperluas wilayah implementasinya dan ditingkatkan kandungan etanolnya sehingga akan seiring dengan negara-negara besar di dunia yang menggunakan etanol sebagai bahan bakar bersih,” pungkas Agung, menutup penjelasannya.
Artikel Terkait
Wall Street Melonjak Didorong Isu Gencatan Senjata di Timur Tengah
Merdeka Gold Resources Lakukan Restrukturisasi Besar, Tunjuk Tiga Direktur Baru
IHSG Melonjak 2,75% Usai Lebaran, Sektor Tekstil Jadi Primadona
IHSG Melonjak 2,75%, Sentimen Positif Warnai Perdagangan Saham