Merdeka Gold Resources Lakukan Restrukturisasi Besar, Tunjuk Tiga Direktur Baru

- Rabu, 25 Maret 2026 | 20:30 WIB
Merdeka Gold Resources Lakukan Restrukturisasi Besar, Tunjuk Tiga Direktur Baru

PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) baru saja melakukan perubahan besar di tubuh manajemennya. Perusahaan tambang emas ini mengumumkan pengangkatan tiga calon direktur baru, sebuah langkah yang dinilai penting untuk mendukung rencana ekspansi dan mendongkrak produksi mereka ke depan.

Menurut keterbukaan informasi yang dirilis ke BEI, Rabu (25/3/2026), manajemen Merdeka Gold menegaskan bahwa ini bukan sekadar rotasi biasa.

“Penunjukan ini tidak sekadar pergantian struktural, melainkan bagian dari upaya memperkuat kapabilitas operasional dan tata kelola perusahaan dalam menghadapi fase pertumbuhan berikutnya,”

Pernyataan itu sekaligus menegaskan ambisi perusahaan. Di sisi lain, langkah ini juga sejalan dengan momentum penting EMAS yang baru saja memasuki fase produksi komersial. Mereka bahkan telah melakukan penjualan emas perdana ke PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) pada Maret 2026 lalu.

Lalu, siapa saja nama-nama baru yang akan mengisi jajaran direksi? Mereka adalah orang-orang dengan rekam jejak yang mumpuni di bidangnya.

Pertama, Nicholas John Green. Dia sudah bergabung sejak 2022 dan kini menjabat sebagai General Manager. Fokusnya adalah mengembangkan proyek-proyek baru dan memperluas fasilitas operasi yang ada. Tugasnya krusial, terutama untuk memastikan pertumbuhan produksi jangka panjang di tengah pasar emas global yang terus bergerak.

Kedua, ada Barend Johannes Nicolaas Knoetze. Namanya tak asing di operasional tambang. Sejak November tahun lalu, dia memegang kendali sebagai General Manager di Tambang Emas Pani aset strategis EMAS. Pengalamannya tak cuma di emas; sebelumnya Barend juga pernah memimpin tambang tembaga Wetar milik grup Merdeka. Pengalaman lintas komoditas ini tentu jadi nilai lebih yang signifikan.

Yang ketiga adalah Suryadinata Tanu, sosok di balik layar keuangan. Pria yang sebelumnya menjabat sebagai General Manager Finance di MDKA ini ditugaskan menjaga stabilitas keuangan perusahaan. Perannya jadi semakin krusial mengingat EMAS kini masuk fase produksi yang membutuhkan pengelolaan biaya dan arus kas yang lebih rumit.

Dengan kombinasi keahlian teknis, operasional, dan finansial ini, EMAS tampaknya sedang menyiapkan panggung untuk akselerasi yang lebih solid.

Namun begitu, penguatan tidak hanya terjadi di jajaran direksi. Dewan Komisaris juga mendapat tambahan darah baru. EMAS menunjuk Xinyu Wang dan Winato Kartono sebagai Komisaris. Sementara tiga nama lain Yu Gao, John Mackay McCulloch Williamson, dan Dr. Jona Widhagdo Putri akan duduk sebagai Komisaris Independen.

Profil mereka pun tak main-main. Winato Kartono, misalnya, adalah profesional investasi dan perbankan dengan pengalaman puluhan tahun, pernah berkarier di GoTo dan kini aktif sebagai Komisaris Utama di Merdeka Battery Materials. Sementara Xinyu Wang adalah eksekutif pertambangan global dengan rekam jejak lebih dari 25 tahun di berbagai proyek internasional.

Di sisi independen, ada nama seperti John Williamson yang karirnya di Morgan Stanley Asia Pacific dan London Metal Exchange sudah tak diragukan lagi. Lalu Dr. Jona Widhagdo Putri, pakar hubungan internasional yang juga penasihat khusus di Dewan Ekonomi Nasional. Dengan komposisi ini, dewan komisaris EMAS akan terdiri dari tujuh anggota, dimana empat di antaranya independen.

Manajemen perusahaan meyakini, rekam jejak dewan direksi dan komisaris ini, terutama pengalaman di proyek seperti Pani, akan menjadi fondasi kokoh untuk pertumbuhan berkelanjutan. Mereka juga menegaskan bahwa langkah ini menunjukkan fokus yang seimbang.

"Hal ini mencerminkan fokus perusahaan pada tata kelola yang lebih kuat dan transparan, sejalan dengan standar industri pertambangan global. Penunjukan manajemen baru ini terjadi pada saat yang tepat,"

Jadi, bisa dibilang EMAS tak hanya sedang membenahi mesin produksinya, tetapi juga memperkuat seluruh struktur organisasi. Mereka bersiap untuk babak baru yang lebih kompetitif.

(Febrina Ratna Iskana)

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar