MURIANETWORK.COM - Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara secara resmi memulai pembangunan pabrik bioetanol terintegrasi di Banyuwangi, Jawa Timur. Proyek hilirisasi ini, yang digarap bersama Pertamina, bertujuan mengubah molase atau tetes tebu menjadi bahan bakar ramah lingkungan, sekaligus mendorong swasembada energi dan pertumbuhan ekonomi di tingkat daerah maupun nasional.
Dimulainya Proyek Strategis Nasional
Groundbreaking di Banyuwangi menandai langkah konkret dari salah satu dari 18 program hilirisasi yang dicanangkan pemerintah. Rosan Roeslani, CEO Danantara, menekankan bahwa nilai proyek ini melampaui sekadar angka investasi. Dampaknya diharapkan akan langsung terasa, mulai dari penyerapan tenaga kerja hingga stimulasi bagi perekonomian wilayah.
“Kita baru saja melakukan hal yang sangat penting, bukan hanya dari segi investasi, tapi juga dari segi penyerapan tenaga kerja dan segi pertumbuhan daerah dan nasional tentu akan berdampak positif,” ucapnya dalam konferensi pers di Wisma Danantara, Jumat (6/2/2026) malam.
Spesifikasi dan Rancangan Pabrik
Pabrik yang dibangun di atas lahan seluas 10 hektare ini dirancang dengan kapasitas produksi yang signifikan. Agung Wicaksono, Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, menjelaskan bahwa fasilitas ini akan mentransformasi molase produk sampingan industri gula yang selama ini belum termanfaatkan secara optimal menjadi bioetanol.
“Dengan pabrik bioetanol terintegrasi di Banyuwangi ini, kolaborasi Pertamina Supporting New and Renewable Energy dan SGN akan menghasilkan 30.000 kiloliter etanol per tahun yang akan mendorong swasembada energi melalui perekonomian rakyat,” jelasnya.
Dampak Ganda: Ketahanan Energi dan Lingkungan
Keberadaan pabrik ini diproyeksikan membawa dampak ganda yang strategis. Di satu sisi, produksi bioetanol dalam negeri diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar minyak (BBM). Di sisi lain, penggunaan bahan bakar yang lebih bersih ini akan berkontribusi pada upaya penurunan emisi karbon.
Agung Wicaksono memaparkan perhitungan rinci dampak tersebut. “Ini akan menekan impor BBM dan menekan emisi karbon. Melalui substitusi impor BBM senilai USD13,9 juta akan dicapai ketahanan energi dan melalui pengurangan emisi karbon senilai 66 ribu ton CO2 ekuivalen akan dicapai keberlanjutan lingkungan,” ungkapnya.
Integrasi dengan Rantai Pasok Bahan Bakar Nasional
Bioetanol yang diproduksi di Banyuwangi nantinya tidak akan langsung digunakan. Produk tersebut akan dikirim ke terminal BBM milik Pertamina untuk melalui proses pencampuran (blending) dengan bahan bakar fosil, sebelum akhirnya didistribusikan ke masyarakat melalui jaringan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di seluruh Indonesia. Langkah ini merupakan bagian dari transisi energi yang bertahap.
“Melalui pabrik ini nantinya akan diperluas wilayah implementasinya dan ditingkatkan kandungan etanolnya sehingga akan seiring dengan negara-negara besar di dunia yang menggunakan etanol sebagai bahan bakar bersih,” pungkas Agung, menutup penjelasannya.
Artikel Terkait
PT Sanurhasta Mitra (MINA) Bantah Keterkaitan dengan Kasus Pasar Modal
OJK Pastikan IPO Kuartal I 2026 Pakai Aturan Free Float 7,5 Persen
IHSG Anjlok 4,73% Pekan Lalu, BUMI Paling Aktif dengan Transaksi Rp10,98 Triliun
Harga Emas Antam Naik Rp30.000 per Gram di Akhir Pekan