Selama bertahun-tahun, persaingan antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab berlangsung sunyi. Tapi diam-diam tak selamanya bertahan. Pekan lalu, ketegangan itu akhirnya meledak ke permukaan dan kali ini, disertai dentuman bom.
Tanggal 30 Desember, pesawat-pesawat Saudi membombardir kota pelabuhan Mukalla di Yaman. Sasaran mereka? Sebuah pengiriman senjata dan peralatan tempur yang diduga ditujukan untuk Dewan Transisi Selatan (STC), kelompok separatis yang ingin memisahkan Yaman selatan. Menariknya, kiriman itu berasal dari sekutu mereka sendiri: Uni Emirat Arab.
Abu Dhabi langsung membantah. Mereka bersikukuh bahwa senjata itu untuk pasukan keamanan Emirat sendiri di wilayah itu, bukan untuk STC. Tapi Riyadh tak menggubris bantahan itu. Peringatan sudah diberikan, kata mereka. Saudi bahkan menyebut langkah Emirat itu "sangat berbahaya".
Latar belakangnya rumit. Awal Desember, STC berhasil merebut kendali atas Provinsi Hadramaut. Wilayah ini berbatasan darat sepanjang 700 kilometer dengan Arab Saudi dan punya nilai strategis tinggi.
"Bahwa Hadramout dikuasai kelompok yang tidak sejalan dengan Saudi jelas tidak bisa diterima Riyadh," kata Hesham Alghannam, peneliti Saudi dari Carnegie Middle East Center, kepada media Aden Al Ghad.
Serangan di Mukalla itu adalah konfrontasi langsung pertama antara kedua negara. Tak lama setelahnya, UEA mengumumkan akan menarik sisa pasukannya dari Yaman. STC sendiri bersedia menyerahkan wilayah selatan, tapi bersikeras mempertahankan cengkeramannya di Hadramaut.
Dua Haluan yang Berbeda
Banyak pengamat yakin, akar masalah ini takkan mudah hilang. Intinya sederhana: kebijakan luar negeri kedua negara sudah lama tak sejalan.
"Perkembangan di kawasan dalam beberapa bulan terakhir benar-benar memperlihatkan perbedaan visi soal tatanan regional," ujar Kristian Coates Ulrichsen, peneliti Timur Tengah di Baker Institute.
Menurutnya, Saudi dan Emirat kini kerap berdiri di kubu yang berseberangan dalam berbagai konflik.
"Arab Saudi sedang tidak punya selera untuk petualangan militer baru. Berbeda dengan Abu Dhabi yang dipersepsikan lebih berani mengambil risiko dan mendukung kelompok bersenjata non-negara," jelas Coates Ulrichsen.
Sebagai kekuatan regional besar, Saudi kini lebih memilih fokus pada stabilitas. Mereka mendorong kerja sama ekonomi kawasan, pembangunan domestik, dan memperkuat hubungan dengan lembaga formal seperti PBB. Pandangan serupa diungkapkan H.A. Hellyer dari RUSI London dalam sebuah unggahan media sosial yang viral.
'Poros Separatis' Ala Emirat
Di sisi lain, UEA punya pendekatan yang lebih pragmatis bahkan Machiavellian. Beberapa menyebutnya strategi "hancurkan untuk membangun", yang tak selalu seirama dengan konsensus negara-negara Arab tetangganya.
Andreas Krieg, dosen di King's College London, punya istilah khusus: "poros separatis". Maksudnya, Emirat aktif mendukung aktor bersenjata non-negara di Libya, Sudan, Somalia, dan Yaman. Tujuannya? Memperluas pengaruh tanpa harus berurusan dengan pemerintah resmi. UEA tentu saja rutin membantah tuduhan semacam ini.
"Poros separatis UEA itu lincah dan terhubung dalam jaringan," kata Krieg. "Lebih tangguh dibanding pendekatan Saudi yang berpusat pada negara, karena tak bergantung pada satu ibu kota atau satu perjanjian formal."
Semua sumber daya uang, logistik, penerbangan, pelabuhan, hingga lobi bertemu di satu ruang: Emirat. Banyak aktivitasnya berjalan "di bawah permukaan", melibatkan broker, pedagang, dan sirkuit uang yang rumit.
Dengan jaringan berlapis ini, UEA mendapatkan akses ke jalur pelayaran strategis, pelabuhan penting, dan pusat energi. "Ini menciptakan tatanan regional alternatif," tambah Krieg. "Pendekatan ini meminggirkan aktor-aktor besar tradisional dengan memutar pengaruh di sekitar mereka."
Alhasil, Saudi dan Emirat pun kerap berselisih.
Embrio Perang Dingin
Lihat saja di Sudan. Saudi berperan sebagai mediator dan mendukung pemerintah yang diakui internasional. Sementara UEA dituduh mendukung Pasukan Dukungan Cepat (RSF), kelompok paramiliter yang sedang berperang melawan pemerintah itu.
Ketika Israel mengakui kemerdekaan Somaliland, mayoritas negara Arab termasuk Saudi mengecam. UEA? Diam. Mereka punya hubungan erat dengan Somaliland, bahkan dikabarkan membangun pangkalan militer di Berbera, Teluk Aden.
Belum lagi soal normalisasi hubungan dengan Israel. UEA sudah melakukannya. Saudi bersikeras tak akan mengikuti sebelum isu Palestina tuntas.
Di Suriah, UEA juga dituduh mendorong aspirasi separatis minoritas Druze yang justru bertentangan dengan pemerintahan Suriah yang didukung Riyadh.
Perbedaan-perbedaan ini makin sulit dirapikan di meja diplomasi. Tak heran jika beberapa pengamat mulai menyebutnya sebagai embrio "Perang Dingin" di Timur Tengah.
Lalu, Apa yang Akan Terjadi?
Pasca-insiden Mukalla, warganet dari kedua negara saling serang di media sosial. Seorang analis Saudi menuduh UEA "mengoyak relasi". Yang lain menyamakan Emirat seperti adik kecil yang bandel. Dari kubu Emirat, ada yang balik menyindir Saudi sebagai kakak yang sok kuasa.
Tapi para pengamat meragukan konflik ini akan melampaui perang kata-kata.
"Saya kira Saudi bergerak tegas di Yaman untuk mengamankan kepentingannya. Ini mungkin pertama kalinya UEA menghadapi dampak serius atas dukungannya pada kelompok non-negara," kata Coates Ulrichsen.
Meski begitu, perpecahan permanen tampaknya bukan opsi. Yang lebih mungkin, kedua negara akan semakin mengeraskan pendirian mereka masing-masing.
Meski menarik pasukan dari Yaman, UEA takkan benar-benar mundur, menurut Krieg. "Peristiwa ini akan membuat mereka memperketat proses, mengurangi visibilitas, dan mengelola dampak. Tapi logika dasarnya tetap utuh."
Itu polanya, katanya. "Saat menghadapi perlawanan, UEA biasanya cuma ganti bungkus, bukan isinya."
Siapa yang Akan Menang?
Krieg mengakui, UEA sudah mengumpulkan banyak keuntungan dari strategi ini. "Tapi penentunya adalah biaya reputasi dan politik."
Ambil contoh Sudan. RSF, kelompok yang didukung Emirat, dituduh melakukan pembantaian dan pelanggaran HAM berat. Dukungan Abu Dhabi pun menuai kecaman internasional yang kian keras.
Sudan menjadi ujian berat bagi "poros separatis" UEA.
"Harga untuk mempertahankan ekosistem berbasis RSF makin mahal. Ruang untuk menyangkal menyempit. Dampak balik datang dari berbagai arah, termasuk dari dalam Teluk sendiri," papar Krieg.
Pada akhirnya, pemenangnya bukan yang paling banyak pengaruh, tapi yang bisa mengubah pengaruh itu menjadi legitimasi dan stabilitas yang bertahan lama.
Artikel ini pertama kali terbit dalam Bahasa Inggris.
Diadaptasi oleh Rizki Nugraha
Editor: Yuniman Farid
Artikel Terkait
Gubernur DKI Gelar Rapat Khusus Bahas Penataan Trotoar dan Lapangan Padel
Waktu Buka Puasa di Semarang Hari Ini Seragam Pukul 18.03 WIB
Pemprov DKI Impor 3.100 Sapi Australia untuk Tekan Inflasi Jelang Ramadan
Polri Amankan Lima Tersangka Pelaku Phishing E-Tilang Palsu