Bom di Mukalla: Saat Persaingan Saudi-Emirat Meledak Jadi Konflik Terbuka

- Rabu, 07 Januari 2026 | 18:50 WIB
Bom di Mukalla: Saat Persaingan Saudi-Emirat Meledak Jadi Konflik Terbuka

Selama bertahun-tahun, persaingan antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab berlangsung sunyi. Tapi diam-diam tak selamanya bertahan. Pekan lalu, ketegangan itu akhirnya meledak ke permukaan dan kali ini, disertai dentuman bom.

Tanggal 30 Desember, pesawat-pesawat Saudi membombardir kota pelabuhan Mukalla di Yaman. Sasaran mereka? Sebuah pengiriman senjata dan peralatan tempur yang diduga ditujukan untuk Dewan Transisi Selatan (STC), kelompok separatis yang ingin memisahkan Yaman selatan. Menariknya, kiriman itu berasal dari sekutu mereka sendiri: Uni Emirat Arab.

Abu Dhabi langsung membantah. Mereka bersikukuh bahwa senjata itu untuk pasukan keamanan Emirat sendiri di wilayah itu, bukan untuk STC. Tapi Riyadh tak menggubris bantahan itu. Peringatan sudah diberikan, kata mereka. Saudi bahkan menyebut langkah Emirat itu "sangat berbahaya".

Latar belakangnya rumit. Awal Desember, STC berhasil merebut kendali atas Provinsi Hadramaut. Wilayah ini berbatasan darat sepanjang 700 kilometer dengan Arab Saudi dan punya nilai strategis tinggi.

"Bahwa Hadramout dikuasai kelompok yang tidak sejalan dengan Saudi jelas tidak bisa diterima Riyadh," kata Hesham Alghannam, peneliti Saudi dari Carnegie Middle East Center, kepada media Aden Al Ghad.

Serangan di Mukalla itu adalah konfrontasi langsung pertama antara kedua negara. Tak lama setelahnya, UEA mengumumkan akan menarik sisa pasukannya dari Yaman. STC sendiri bersedia menyerahkan wilayah selatan, tapi bersikeras mempertahankan cengkeramannya di Hadramaut.

Dua Haluan yang Berbeda

Banyak pengamat yakin, akar masalah ini takkan mudah hilang. Intinya sederhana: kebijakan luar negeri kedua negara sudah lama tak sejalan.

"Perkembangan di kawasan dalam beberapa bulan terakhir benar-benar memperlihatkan perbedaan visi soal tatanan regional," ujar Kristian Coates Ulrichsen, peneliti Timur Tengah di Baker Institute.

Menurutnya, Saudi dan Emirat kini kerap berdiri di kubu yang berseberangan dalam berbagai konflik.

"Arab Saudi sedang tidak punya selera untuk petualangan militer baru. Berbeda dengan Abu Dhabi yang dipersepsikan lebih berani mengambil risiko dan mendukung kelompok bersenjata non-negara," jelas Coates Ulrichsen.

Sebagai kekuatan regional besar, Saudi kini lebih memilih fokus pada stabilitas. Mereka mendorong kerja sama ekonomi kawasan, pembangunan domestik, dan memperkuat hubungan dengan lembaga formal seperti PBB. Pandangan serupa diungkapkan H.A. Hellyer dari RUSI London dalam sebuah unggahan media sosial yang viral.

'Poros Separatis' Ala Emirat

Di sisi lain, UEA punya pendekatan yang lebih pragmatis bahkan Machiavellian. Beberapa menyebutnya strategi "hancurkan untuk membangun", yang tak selalu seirama dengan konsensus negara-negara Arab tetangganya.

Andreas Krieg, dosen di King's College London, punya istilah khusus: "poros separatis". Maksudnya, Emirat aktif mendukung aktor bersenjata non-negara di Libya, Sudan, Somalia, dan Yaman. Tujuannya? Memperluas pengaruh tanpa harus berurusan dengan pemerintah resmi. UEA tentu saja rutin membantah tuduhan semacam ini.

"Poros separatis UEA itu lincah dan terhubung dalam jaringan," kata Krieg. "Lebih tangguh dibanding pendekatan Saudi yang berpusat pada negara, karena tak bergantung pada satu ibu kota atau satu perjanjian formal."

Semua sumber daya uang, logistik, penerbangan, pelabuhan, hingga lobi bertemu di satu ruang: Emirat. Banyak aktivitasnya berjalan "di bawah permukaan", melibatkan broker, pedagang, dan sirkuit uang yang rumit.

Dengan jaringan berlapis ini, UEA mendapatkan akses ke jalur pelayaran strategis, pelabuhan penting, dan pusat energi. "Ini menciptakan tatanan regional alternatif," tambah Krieg. "Pendekatan ini meminggirkan aktor-aktor besar tradisional dengan memutar pengaruh di sekitar mereka."

Alhasil, Saudi dan Emirat pun kerap berselisih.

Embrio Perang Dingin


Halaman:

Komentar