Yang juga jadi sorotan adalah konsistensi kebijakan yang dianggap mulai berkurang. Hal ini, kata Moody's, berpotensi mengikis kepercayaan investor. Gejalanya sudah kelihatan di pasar: volatilitas saham dan nilai tukar rupiah yang meningkat. Jika dibiarkan, kredibilitas kebijakan yang selama ini jadi penopang stabilitas ekonomi bisa tergerus.
Perubahan outlook Moody's ini datang di waktu yang sensitif. Baru-baru ini, MSCI Inc. juga sudah mengeluarkan peringatan tentang persoalan investabilitas di pasar modal kita, bahkan membuka opsi untuk menurunkan status pasar. Peringatan MSCI itu sempat memicu kepanikan. IHSG anjlok dalam-dalam sampai-sampai trading halt diberlakukan dua hari berturut-turut akhir Januari lalu. Pasar memang sudah mulai stabil, tapi gejolaknya masih terasa.
Menanggapi semua ini, pemerintah lewat Kementerian Keuangan mencoba menenangkan. Mereka menegaskan bahwa agenda transformasi ekonomi akan terus berjalan. Namun, segala risikonya akan dikelola dengan sangat hati-hati.
Pemerintah bersama Bank Indonesia juga mengulang komitmen untuk menjaga stabilitas. Mulai dari harga, nilai tukar, hingga pasar keuangan secara keseluruhan. Mereka berusaha meyakinkan bahwa situasi masih dalam kendali.
Tapi, di tengah ketidakpastian global yang masih membayang, langkah Moody's ini jelas jadi pengingat yang keras. Semua mata sekarang tertuju pada langkah konkret berikutnya dari para pengambil kebijakan.
Artikel Terkait
Gubernur Fed Stephen Miran Desak Pemotongan Suku Bunga Lebih Agresif Dukung Pasar Tenaga Kerja
Wall Street Menguat Didorong Pernyataan Trump Soal Iran, Teheran Bantah Klaim Kontak
TOWR Catat Laba Bersih Rp3,68 Triliun di 2025, Tumbuh 10,3%
Tiga Emiten Siap Bagikan Dividen Tunai Rp13,17 Triliun pada April 2026